Senin, 31 Oktober 2016

Zaman Reformasi, Zaman Kerajaan Nasional

BAB 1. PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang

Istilah Reformasi pada hakikatnya dikumandangkan oleh orang-orang protestan yang menentang terhadap otoritas Gereja di bawah pimpinan paus di berbagai wilayah Eropa. Pergolakan agama pada Abad XVI mendorong timbulnya Lutheranisme, Calvinisme, Anglikanisme, dansekte radikal, merupakan gerakan pembaharuan di seluruh Eropa menentang Gereja Katolik dan menghendaki kemurnian agama Nasrani.
Berbibersumber pada otoritas gereja yang sejak Abad X, telah memperoleh atau mendapat kritik masyarakat mengenai penyalahgunaan otoritas dan mengatur keagamaan. Kaum humanis mengingatkan melalui kritinya, bahwa Gereja dianggap gagal dalam mengajarkan agama, berdo’a, dan tidak mencermikan pejabat-pejabat Gereja sebagai pengembang agama. Kaum humanis, seperti Erasmus, mengajarkan agar para pejabat Gereja melakukan Reformasi dalam tubuh Gereja. Penyalahgunaan otoritas agama oleh pemimpin Gereja yang berlangsung selama beberapa abad itu, mendorong terjadinya kemerosotan otoritasnya.Sekalipun Reformasi itu menyangkut masalah Gereja, namun terdapat berbagai faktor yang mendorong lahirnya Reformasi.
Eropa merupakan kawasan munculnya renaissance atau zaman pencerahan. Setelah terjadi reformasi protestan rupanya memberikan dampak yang signifikan dalam kehidupan sosial, politik di kawasan tersebut. Salah satu dampak disisi politik adalah bermunculannya kerajaan nasional. Kerajaan nasional memiliki arti bahwa negara-negara tersebut mampu untuk memerintah bangsanya sendiri.
Munculnya kerajaan-kerajaan nasional ini merupakan awal mula dari munculnya merkantilisme perekonomian.Terbentuknya negara nasional pada mulanya didasarkan pada adanya persamaan bahasa atau kebudayaan baru kemudian atas kesadaran nasional. Negara nasional pertama yang terbentuk serta mencapai kesatuan di Eropa Barat yaitu. Spanyol, Portugal, Inggris, Perancis dan Belanda. Negara-negara.
Munculnya Reformasi Protestan membawa pengaruh besar terhadap pembaharuan religius pada Negara – Negara di Eropa, khususnya di Inggris, Perancis, Jerman dimana penyebaran Protestanisme menyebar dengan cepat. Kerajaan nasional merupakan langkah awal menuju ke modernan kehidupan masyarakat.  Oleh karena itu penulis memilih judul Makalah Reformasi Protestan dan sejarah kemunculan kerajaan-kerajaan nasional, kemegahan kerajaan nasional, serta corak kehidupan masyarakat dimasa kerajaan nasional.



1.2 Rumusan Masalah

1.2.1.   Bagaimana awal timbulnya Reformasi Protestan di Eropa ?
1.2.2.   Aspek – aspek apa saja yang mempengaruhi terjadinya
Reformasi Protesta Di Eropa ?
1.2.3.   Siapa saja tokoh pergerakan Reformasi Protestan beserta bagaimana
            peran tokoh-tokoh tersebut ?
1.2.4        Bagaimana awal mula berdirinya kerajaan nasional secara umum?
1.2.5        Bagaimana sejarah kerajaan nasional Spanyol, Portugal, Inggris, Belanda dan Perancis ?
1.2.6        Bagaimana corak kehidupan masyarakat di era kerajaan nasional ?

1.3 Tujuan Masalah

            1.3.1    Untuk mengetahui awal timbulnya reformasi protestan di Eropa.
            1.3.2    Untuk mengetahui aspek yang mempengaruhi reformasi
protestan di Eropa.
            1.3.3    Untuk mengetahui siapa saja tokoh pergerakan reformasi.
            1.3.4    Untuk mengetahui awal berdirinya kerajaan nasional.
            1.3.5    Untuk mengetahui sejarah dari kerajaan nasional.
1.3.6        Untuk mengetahui corak kehidupan masyarakat era kerajaan nasional.

1.4 Manfaat

Dari penulisan makalah ini diharapkan pembaca dapat mengetahui bagaimana pergerakan reformasi protestan di eropa dan kerajaan kerajaan nasional di Indonesia.








BAB 2.  PEMBAHASAN

 

2.1       Awal Timbulnya Reformasi Protestan di Eropa

Renaisans telah merevitalisasi kehidupan intelektual eropa dan dalam perjalananya membuang ke asyikan abad pertengahan dengan teologi. Demikian pula, reformasi menandai permulaan suatu cara pandang religius yang baru. Akan tetapi reformasi protestan, tidak berasal di dalam lingkaran elit sarjana humanistik. Lebih tepatnya, ia di cetuskan oleh Marthin Luther (1483-1546), seorang biarawan Jerman yang tidak dikenal dan teolog yang brilian. Luther memulai suatu pemberontakan melawan otoritas gereja yang kurang dalam satu dasawarsa mencerai beraikan tanpa terpulihkan kesatuan religius dunia Kristen. Dimulai pada 1517, reformasi mendominasi sejarah Eropa selama sebagian besar abad ke enam belas.gereja Katolik Roma berpusat di Roma adalah suatu lembaga di Eropa yang melampaui batas nasional,geografis ,teknis dan bahasa.Pada abad ke empat belas,sewaktu para raja meningkatkan kekuasaan mereka dan sewaktu pusat pusat perkotaan dengan orang awamnya yang canggih semakin banyak jumlahnya, rakyat mulai mempertanyakan otoritas gereja internasional dan kaum pendetanya. Para teoritisi politis menolak klaim paus atas supremasi terhadap para raja.Mereka mengatakan bahwa paus tidak mempunyai otoritas terhadap raja, sehingga Negara tidak membutuhkan bimbingan dari kepausan, dan bahwa kaum pendeta tidak berada di atas hokum sekuler. Selama akhir abad keempatbelas, dunia Kristen menyaksikan serangan – serangan sistematik pertama yang pernah dilancarkan terhadap gereja.Kebobrokan gereja seperti penjualan surat pengampunan dosa, nepotisme ( praktik pengangkatan kerabat  untuk menjadi pejabat), pemilikan tanah oleh keuskupan, dan pemuasan hawa nafsu.
John Wycliffe orang Inggris dan Jan Hus orang Bohemia, keduanya teolog terpelajar, mencela kekayaan kaum pendeta sebagai suatu pelanggaran terhadap ajaran ajaran Kristus dan menyerang otoritas gereja hingga kedasarnya dengan menyatakan bahwa gereja tidak mengendalikan takdir seorang individu.
Dengan datangnya Lutheranisme, imam pribadi lebih menjadi sentral bgi kehidupan religius kaum Protestan Eropa ketimbang kepatuhan kepada praktik –praktik gereja. Para Humanis Renaissans berusaha melembagakan kembali kebijaksanaan zaman kuno, para pembaru Protestan ingin memulihkan semangat agama Kristen awal, dimana iman tampak lebih murni umat beriman lebih tulus,dan pendeta tidak dirusak oleh kemewahan dan kekuasaan. Pada tahun 1540-an, gereja katolik Roma telah memprakarsai reformasi Internalnya sendiri, tetapi sudah sangat terlambat untuk menghentikan gerakan kearah Protestanisme di Eropa Utara dan Barat.

2.2 Aspek-Aspek Yang Mempengaruhi Timbulnya Reformasi Eropa

1. Aspek Agama
Kemunduran otoritas gereja Katolik pada akhir abad XIV sangat bertalian dengan adanya reaksi dari orang-orang Protestan yang mempelopori munculnya Reformasi. Protestantisme muncul di Eropa sebagai upaya untuk memperbaiki kehidupan agama  Nasrani sebelum terbentuknya sistem kepausan,  menentang hirarkhi ke Gerejaan dan menghendaki kemurnian ajaran nasrani seperti yang diberikan Yesus Kristus. Pada masa abad pertengahan, keluhan terhadap Gereja cukup banyak terutama yang menyangkut kekayaan Gereja. Tiap tahun Gereja menuntut upeti dari raja, Gereja meminta bayaran pada para Uskup pada waktu mereka diangkat, Gereja memungut pajak tersendiri bagi pembangunan Gereja, bagi peperangan yang dilakukan dan pelaksanaan berbagai kegiatan kerajaan, misalnya upacara-upacara keagamaan.
Salah satu sumber penghasilan yang sangat menguntungkan dan yang kemudian menjadi sengketa besar, adalah indulgensi. Yang dimaksud indulgensi adalah meniadakan hukuman akibat dosa dan sebagai imbalannya orang yang bertobat itu memberikan uang tunai kepada Gereja. Kekayaan Gereja yang sangat berlimpah mendorong para pemuka Gereja hidupnya sangat mewah, mementingkan kebutuhan duniawi dari pada urusan keagamaan. Mereka secara pribadi banyak menerima persembahan uang bagi orang-orang tertentu dan sebagai imbalannya menerima surat tanda penerimaan indulgensi yang diminta.
2. Aspek Politik
Proses terbentuknya sentralisasi kekuasaan raja-raja Eropa memperoleh bantuan dari warga kota yang sebagian besar terdiri dari kelas menengah ikut menentang otoritas Gereja. Kekuatan politik raja-raja Eropa mendorong pula timbulnya reformasi. Gerakan protestantisme mendorong terselenggaranya sentralisasi kekuasaan raja-raja Eropa. Inggris dan Jerman sebelah utara, kaum protestan memihak para raja, di Perancis dan Spanyol partai agama bersatu dengan gerakan partikularis kaum bangsawan, bahwa agama nasional tetap Katolik. Dalam abad XVI, mereka menuntut hak untuk menentang raja yang turun-temurun. Bentuk penentangan itu dalam ajaran Kristen tidak berwujud suatu kekerasan. Pandangan terakhir ini menjadi teori modern tentang kekuasaan raja yang dari tuhan. Raja dianggap memperoleh kekuasaannya dari rakyat karena sebab-sebab yang cukup dapat diminta pertanggung jawaban dari rakyat. Kaum protestan dalam pertumbuhannya melakukan berbagai cara menyerang terhadap kekuasaan mutlak baik yang dimiliki Gereja maupun raja, seperti yang terjadi di Inggris dan Perancis. Alasan-alasan mereka menyerang kekuasaan mutlak adalah sebagai berikut.
Yang pertama, alasan konstitusional yang dianggap sebagai dasar kenyataan sejarah bahwa kekuasaan kerajaan mutlak banyak memberikan kesempatan raja menyalahgunakan kekuasaan dan cenderung melakukan tindakan sewenang-wenang pemerintahan dalam abad pertengahan tidak ada.
Yang kedua, lawan dari kekuasaan raja dapat juga dicarikan alasan dalam dasar-dasar filsafat kekuasaan politik serta dicoba menunjukkan bahwa kerajaan mutlak adalah bertentangan dengan azas-azas umum dari hak yang dianggap sebagai dasar semua pemerintahan. Dibeberapa wilayah Eropa Barat dapat disebut bahwa kaum reformasi memihak kepada raja, maka nampaklah ide-ide protestan merembes kepada kepentingan politik dan ekonomi.
3. Aspek Ekonomi dan Sosial
Terjadinya gerakan reformasi di Eropa pada abad XVI berkaitan pula dengan faktor ekonomi. Terjadilah masa peralihan dari sistem ekomomi rumah tangga alam kekapitalisme dagang. Revolusi ekonomi yang terjadi di akhir abad pertengahan mengubah kehidupan sehari-hari orang-orang Protestan dan Katolik. Perluasan perdagangan dapat mendesak konsep lama, yakni barter dan kekayaan atas dasar tanah diganti dengan suatu ekonomi yang prinsip pokoknya ialah bahwa modal dapat dan harus digunakan untuk mencitakan lebih banyak modal. Konsep materialism baru ini merupakan faktor lahirnya Reformasi. Petumbuhan kapitalisme dagang pada akhir abad pertengahan dan penemuan-penemuan besar mengakibatkan meluasnya perdagangan pelayaran dan yang telah ikut pula mendorong lahirnya Reformasi.
Akibat bergesernya tatanan ekonomi pada akhir abad pertengahan menuju kepermulaan zaman modern mempengaruhi cara panjang masyarakat kota-kota di Eropa terhadap kehidupan sosialnya. Berkembangnya industri dan perdagangan di berbagai kota dagang mendorong munculnya kaya baru. Mereka harus rajin bekerja, dapat mengumpulkan kekayaan serta dapat menolong sesame manusia yang miskin. Konsep pemikiran pejabat gereja selama abad pertengahan, mengajarkan pentingnya hidup di surge dan akhirat, mengesampingkan pentingnya kehidupan duniawi karena manusia dianggap penuh dosa dihadapan Tuhan, mendapat reaksi dari para warga kota yang sebagian berasal dari orang-orang Protestan. Pandangan masyarakat Gereja abad pertengahan bahwa dengan mengumpulkan harta benda dengan bekerja giat dianggap kurang terpuji, maka pandangan demikian itu mulai bergeser, banyak ditinggalkan orang. Konsep-konsep pemikiran kaum Protestan sangat mendukung terhadap gagasan tersebut.

2.3 Tokoh Pergerakan Reformasi Protestan

Gerakan reformasi protestan yang di pelopori Martin Luther, John Calvin, Zwingli, John Knox dan lain-lain berdampak luas terhadap sejarah pemikiran social, keagamaan , politik di zaman tersebut. Gerakan ini pada awalnya adalah sebuah pemrotestan dari kaum bangsawan dan penguasa jerman terhadap kekuasaan imperium katolik Roma. Akan tetapi pada perkembangan berikutnya, gerakan ini memiliki konotasi lain, yaitu dianggap dengan identik dengan semua gerakan dan organisasi yang menetang kekuasaan paus di Roma. Ada beberapa faktor penyebab dan latar belakang munculnya gerakan Reformis Protestan, antara lain :
1.      Produk perlawanan terhadap gereja katolisisme.
2.      Terjadinya perkembangan Kapitalisme dan Krisis-krisis ekonomi di kawasan imperium Roma.
3.       Penarikan Pajak-pajak yang memberatkan.
4.      Kebangkitan nasionalisme di Eropa.
Reformasi dimulai oleh Martin Luther, yang mengalami keprihatinan pribadi karena meragukan kekuasaan gereja untuk memberikan keselamatan.
A.    Marthin Luther (1483-1546)
Ia adalah anak seorang petani dari suami-istri Hans dan Margareth Luther,ia di lahirkan pada tahun 1483,di kota tambang Eisleben, Saxon, Jerman.Luther masuk Ordo Santo Agustinus di Enfurt pada tahun 1505.Bagi Maartin Luther hakekat agama berletak pada pengalaman batin terutama mistik dan tidak dapat di edarkan pada orang lain.Adapun penyimpangan-penyimpangan gereja yang dilihat oleh Luther, dan pemikiran-pemikirannya mengenai Reformasi, antara lain: (Suhelmi, 2001,hlm149-156;McDonald,1968,hlm220,233)
.a.  Banyak pemuka gereja yang yang memperoleh posisi sosial keagamaan melalui cara-cara yang tidak etis dan amoral. Mereka tidak segan-segan menyogok petinggi gereja untuk berkuasa. Ironisnya, mereka yang kemudian berkuasa karena menyogok melakukan tindakan tak terpuji seperti korupsi dan manipulasi atau komersialisasi jabatan.
b.  Adanya penjualan surat-surat pengampunan dosa (indulgencies). Dengan alasan keagamaanmembangun gereja Santo Petrus di Roma Vatikan. Paus mengumpulkan dana melalui surat-surat itu. Mereka yang membeli surat-surat itu akan memperoleh ampunan Tuhan. Semakin besar uang yang dibayarkan untuk membeli surat-surat pengampunan itu, akan semakin besar dosa yang akan diampuni Tuhan; bahkan Paus mendeklarasikan bahwa surat pengampunan itu juga bisa menghapus dosa orang-orang (sanak saudara, sahabat, dan sebagainya) yang telah meninggal dunia. Menurut Luther, penjualan surat-surat tersebut bertentangan dengan ajaran Yesus Kristus. Pembelian surat-surat tersebut tidak boleh dipaksakan, harus sukarela. Gereja juga tidak memiliki hak pemberian pengampunan dosa. Hanya Tuhan, atas dasar kepercayaan dan amal saleh individu, yang dapat memberikan pengampunan dosa.
c. Luther menentang doktrin sakramen suci gereja. Ia ingin mengurangi sakramen suci ini. Menurutnya hanya dua dari tujuh doktrin sakramen suci Gereja Roma, yaitu pembabtisan dan komuni yang harus dipertahankan, karena hanya keduanya yang disetujui oleh Kitab Injil. Sehingga sakramen pernikahan, perintah suci, dan pemberian minyak suci tidak dianggap sebagai sakramen pentahbisan (McDonald, 1968, hlm 233). Kritik ini berhubungan dengan prinsip bahwa semua orang adalah sama. Ia menentang pastor sebagai mediator antara manusia dengan Tuhan. Bila manusia ingin selamat maka manusia harus berbuat baik dan bertobat (langsung) kepada Tuhan. Doktrin keimanan dan berbuat baik merupakan wacana yang telah mendesakralisasi lembaga imamat. Desakralisasi ini mengakibatkan timbulnya tuntutan agar semua manusia dianggap sama di hadapan Tuhan. Tidak ada kelebihan seorang pastor dibanding orang lain kecuali amal kebajikannya. Desakralisasi ini juga menggoyahkan sistem hierarki gereja. Para pengikut Luther menolak hierarki kependetaan karena hierarki ini dianggap bertentangan dengan prinsip persamaan manusia di hadapan Tuhan. Luther menolak hak istimewa pastor membaca dan menafsirkan kitab suci. Menurutnya setiap pengikut Kristus berhak untuk membaca dan menafsirkan kitab suci. Dengan demikian tidak terjadi monopoli kebenaran oleh pemuka agama. Untuk mendukung gagasan ini, menurut Luther sebaiknya kitab suci diterjemahkan ke dalam bahasa yang dimengerti rakyat, yaitu bahasa Jerman.
d.  Selain itu Luther juga menganjurkan perkawinan bagi para pastor. Gagasan ini dilihat dari banyaknya pengalaman tidak terpuji Paus atau para pastor yang mempunyai wanita dan anak di luar nikah. Menurutnya perkawinan bukan dosa dan merupakan tuntutan biologis yang harus dipenuhi. Luther juga tidak menyetujui prinsip monastitisme yang menghendaki pastor menjalankan hidup seperti biarawan atau biarawati. Kehidupan biarawan bukanlah cara terbaik untuk mensucikan diri dan mencari jalan keselamatan. Ia menawarkan gagasan asketisme duniawi. Orang dapat mensucikan dirinya dan memperoleh keselamatan dengan terlibat secara intensif dengan berbagai persoalan duniawi, asalkan apapun yang dilakukan semata-mata untuk tujuan keagungan Tuhan. Luther juga menolak adanya ketentuan mencium kaki Paus dan membawanya dengan menggunakan tandu ketika Paus masih dapat berjalan sendiri. Selain itu Luther menghendaki pengurangan sejumlah bentuk misa (McDonald, 1968, hlm 230).
e.  Penyimpangan keagamaan tidak dengan sendirinya bisa melahirkan gerakan Reformasi Protestan seandainya tanpa diiringi oleh terjadinya perkembangan kapitalisme yang sangat cepat dan krisis-krisis ekonomi di kawasan imperium Roma. Inilah faktor ekonomis yang mengakselerasi kelahiran gerakan Reformasi. Perkembangan kapitalisme yang demikian cepat di Eropa, khususnya di Italia, Jerman, Inggris, Prancis, dan sebagainya, sejak abad Rennaisance, membawa dampak serius terhadap doktrin keagamaan.
f. Adanya penarikan pajak yang dirasakan berat oleh kelas bawah dan penguasa lokal. Dalam kasus Reformasi, masalah pajak ternyata menimbulkan krisis ekonomi serius. Merasa tertekan akibat pajak penduduk, terutama dari kalangan kelas bawah (petani, pekerja, dan sebagainya), yang berada dalam dominasi imperium gereja Katolik, melakukan perlawanan terhadap kekuasaan gereja yang menarik pajak dalam berbagai bentuk. Di awal munculnya gerakan Reformasi, muncul tuntutan agar pajak-pajak dihentikan atau dikurangi. Sebab, para penguasa lokal memerlukan dana untuk memperkuat angkatan bersenjata dan membangun negeri-negeri mereka, sementara di lain pihak mereka diwajibkan untuk membayar pajak dengan jumlah yang cukup besarIa mengkritik terhadap gereja Roma,kehidupan pengadilan Roma yang di anggap mewah dan orang orang yang bekerja di dalam nya terlalu rakus dan jahat.Gereja memungut pajak tanah yang sangat memberatkan  terhadap kehidupan rakyat Jerman terutama pada petani.Telah terjadi korupsi yang di lakukan oleh oknum oknum pengadilan paus dan adanya penjualan hadiah hadiah atau pangkat dalam sistem kegerejaan.Konsep pemikiran Martin Luther ingin mengurangi kekuasaan gereja itu.Doktrin indulgensi yang di keluarkan pejabat gereja roma mendapat reksi keras dari Martin Luther.Ia menolak berlakunya indulgensi sebagai penghasilan utama gereja. Ungkapan kemarahan Martin Luther di tuliskannya senbanyak 95 tesis pada selembar poster yang kemudian di pakukan di pintu utara gereja istama Witternberg.Selain bereaksi terhadap doktrin indulgensi,Luther dengan tajam menyangkal kebenaran gereja katolik yang selama beberapa abad lamanya membagi orang Kristen menjadi golongan imam dan awam, derajat imam lebih tinggi dari golongan awam.
g. Banyak pemuka katolik memperoleh posisi social keagamaan dengan cara yang tidak etis dan tidak normal. Seperti yang terjadi dalam kasus Paus Leo X. Paus Katolik ini memperoleh uang sejumlah $ 5.250.000 dari hasi penjualan Gerejani. Ada juga Paus yang berperilaku amoral yang menyangkut hubungan dengan wanita seperti yang terjadidalam kasus Paus Alexander VII. Paus ini diketahui memiliki delapan anak haram, tujuh diantaranya dimiliki sebelum menjadi Paus.
h. Selain itu Luther juga menolak tradisi selain itu luther juga menolak revisi keagamaan Katolik yang sudah berlansung ratusan tahun yaitu hak istimewa pastur membaca dan menafsirkan akitab. Menurutnya siapapun pengikut kristus bukan hanya pendeta berhak membaca dan menafsirkan alkitab.
I.   Tokoh reformis ini tidak setuju dengan monastisisme yang mengkehendaki pastor hidup asketis dengan cara menjalani kehidupan sebagai biarawan.
Dalam ruang lingkup pemberontakan Luther terhadap gereja, Luther diperintahkan untuk datang dan menemui para pemuka gereja dan melakukan adu pendapat dan adu argument diantara mereka, akhirnya di cap menjadi Murtad oleh pembesar pembesar gereja dan dinyatakn bersalah, kemudian diasingkan oleh Dewan Persidangan pada tahun 1521. Dan semua tulisannya tidak bias dipertanggugjawabkan. Dalam tulisannya ‘ On Christian Liberty “ Luther menegaskan bahwa bila seseorang memiliki keimanan pasti ia akan melakukan perbuatan baik. Dasarnya mengutip “ Al Kitab : ‘pohon yang baik tidak akan menghasilkan buah yang korup, demikian pula pohon yang korup tidak akan menghasilkan buah yang baik “. Selain itu Luther juga menolak Menyadari bahwa nyawanya bisa terancam karena aksinya jika di lakukan terus menerus, Martin Luther memohon dukungan dari pangeran di distriknya, Frederick, elector Saxony. Sang elector adalah seorang yang sangat kuat dalam politik internasional, satu dari tujuh orang awam dan pangeran gerejawi yang memilih Kaisar Romawi suci. Dukungan Frederick meyakinkan para pejabat gereja, termasuk paus, bahwa rahib ini akan di tangani dengan cara yang berhati hati. Pada tahun 1520 Paus akhirnya bertindak melawan Luther, sudah sangat terlambat; Luther sudah di beri waktu yang di butuhkan untuk menyebarkan pandangan pandangannya. Dia memproklamirkan bahwa paus adalah anti kristus dan gereja adalah sarang perampok yang ingkar hukum, yang paling tak tahu malu dari semua tempat pelacuran. Ketika di sampaikan dekrit Paus yang mengucilkannya, Luther membakarnya.
B.     Erasmus Desiderius Roterodamus
Adalah seorang humanis yang terkemuka dan merupakan perintis Reformasi. Karyanya edisi perjanjian Baru diterbitkan pada tahun 1516 dalam Bahasa Yunani mendorong reformasi Luther. Erasmus dilahirkan 27 oktober 1466. Ia tinggal dalam biara Augustinus selama 5 tahun (1486-1491). Pada waktu selama itu ia menulis sejumlah puisi dan karangan prosa dan lain. Dalam tulisannya sudah tampak kritiknya pada kekuasaan gereja.
Erasmus adalah seorang tokoh yang berjasa bagi gerakan reformasi gereja yang dipimpin oleh Luther. Luther menggunakan edisi baru bahasa Yunani yang dikeluarkan oleh Erasamus. Erasamus juga mengeritik keburukan-keburukan yang ada di gereja dan menasahati paus supaya mengambil tindakan-tindakan pembaharuan gereja. Hingga tahun 1524 Erasamus bersimpati pada reformasi Luther.

C.     Zwingli 
Huldrych (atau Ulrich) Zwingli lahir di Swiss, 1 Januari 1484  adalah  pemimpin  Reformasi Swiss, dan pendiri Gereja Reformasi Swiss. Reformasi Zwingli didukung oleh pemerintah dan penduduk Zürich, dan menyebabkan perubahan-perubahan penting dalam kehidupan masyarakat, dan urusan-urusan negara di Zürich. Gerakan ini, khususnya, dikenal karena tanpa mengenal kasihan menganiaya kaum Anabaptis dan para pengikut Kristus lainnya yang mengambil sikap tidak melawan. Reformasi menyebar dari Zürich ke lima kanton Swiss lainnya, sementara yang lima lainnya berpegang kuat pada pandangan iman Gereja Katolik. Zwingli terbunuh di Kappel am Albis, dalam sebuah pertempuran melawan kanton-kanton Katolik.

D.    John Calvin (1509-1564)
Yohanes Calvin atau John Calvin lahir di Noyon, Kerajaan Perancis, 10 Juli 1509 Swiss. Ia adalah  teologKristen terkemuka pada masa Reformasi Protestan yang berasal dari Perancis. Seorang pemimpin Reformasi Gerakan Gereja di Swiss. Merupakan generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin reformasi gereja abad ke-16 peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris. Gereja-gereja yang mengikuti ajaran tata gereja yang digariskan Calvin tersebar. Dikenal dengan gereja Calvinisme. Sebagai pelopor Reformasi Gereja, ia menyebarkan gagasan-gagasannya tentang bagaimana Gereja Reformasi yang benar itu ke banyak bagian Eropa. Calvinisme menjadi sistem teologi dari mayoritas Gereja Kristen di Skotlandia, Belanda, dan bagian-bagian tertentu dari Jerman dan berpengaruh di Perancis, Hongaria khususnya di Transilvania dan Polandia.

E.     John Knox 
Lahir sekitar tahun 1513 di Haddington.Ia belajar di Universitas St. Andrews lalu ditahbiskan menjadi imam Katolik tahun 1536 dan menjadi seorang notaris kepausan tahun 1540. Ia adalah salah seorang tokoh yang memengaruhi  gerakan  reformasi  di  Skotlandia.Ia merupakan salah satu murid Calvin di Jenewa, sehingga pengaruh teologi Calvinis sangat kental dalam dirinya. Menurut Knox, kekristenan dan kemerdekaan nasional harus dapat ditemukan bersama, karena keduanya merupakan suatu pergumulan yang dapat diselesaikan bersama.

F.      John Wycliff
John Wycliffe  lahir 1324 adalah seorang pengajar di Universitas Oxford, Inggris, yang dikenal sebagai filsuf, teolog, pengkhotbah, penterjemah dan tokoh reformasi Kristen di Inggris.Ia dikenal melalui karyanya menerjemahkan Alkitab dari bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1382, yang dikenal sebagai "Alkitab Wycliffe". Karya inilah yang mempengaruhi terjemahan-terjemahan Alkitab kemudian. Pada tahun 1371 doktrin-doktrin Wycliffe mengenai kekayaan gereja dianggap cocok bagi pemerintah sekuler saat itu, sebab gereja sangat kaya dan memiliki kurang lebih sepertiga dari seluruh tanah di Inggris. Namun demikian, gereja masih menuntut kebebasan pajak dari pemerintah.Doktrin-doktrin Wycliffe dipakai untuk memaksa para rohaniawan yang segan membayar, sehingga dengan begitu pemerintah dapat membiayai perang yang mahal melawan Prancis.

2.4       Sejarah Munculnya Kerajaan Nasional

            Nasionalisme tumbuh subur di daerah eropa utara seperti Inggris, Perancis dan Jerman. Ini disebabkan karena warganya dalam intervensi Paus dalam permasalahan internal Negara yang bersangkutan. Dengan kata lain, mereka berhak untuk menentukan nasib dirinya sendiri. Paus dianggap sebagai kekuatan asing yang eksploitatif dan harus dilawan.
       Adanya suatu reformasi Protestan yang terjadi pada abad pertengahan memberikan suatu dampak yang sangat signifikan terhadap bangsa-bangsa di Eropa. Dimana adanya reformasi ini berakar terhadap suatu terbentuknya Kerajaan Nasional yang memilki arti bahwa negara-negara tersbut sudah mampu untuk memerintahkan bangsanya sendiri.
       Hubungan mengapa adanya suatu Kerajaan Nasional dapat dipengaruhi oeh reformasi Protestan dapat dilihat dari dampak yang ditimbulkan dari reformasi itu sendiri. Ini dapat dilihat dari kemajuan-kemajuan yang telah dihasilkan yakni  mengubah wajah Eropa. Dengan memutuskan para raja beserta rakyatnya dari kekuasaan Roma, maka Reformasi telah menyokong  tumbuhnya negara-negara kebangsaan modern.  Dengan mencoba Renaisans yang dinilai terlalu bebas, maka kebajikan dan moralitas agama dipulihkan kembali. Individualisme yang diwariskan Renaisans pada Reformasi terus berkembang. 
          Kerajaan Nasional selain dipengaruhi adanya reformasi Protestan juga dapat dipengaruhi dengan adanya zaman pencerahan. Dimana ciri-ciri yang dapat terlihat dari zaman pencerahan ialah telah memberikan  sifat dan jiwanya kepada pemikiran modern. Manusia modern telah menolak konsep teologi Abad Pertengahan sebagai  suatu wewenang yang paling akhir. Orang Pencerahan menafsirkan alam semesta tidak lagi dipandang sebagai suatu hal yang misteri,  alam dapat dipelajari dan dikaji  berdasar kemampuan akal. Abad Pencerahan atau Abad Pemikiran merupakan Abad Kepercayaan, ilmu pengetahuan yang telah menggeser abad Iman yang telah terjadi selama Abad Pertengahan.
          Akhirnya dapat dijabarkan bahwa terbentuknya Kerajaan Nasional pada mulanya didasarkan pada adanya kebebasan dalam persamaan bahasa atau kebudayaan, baru kemudian atas kesadaran nasional. kerajaan nasional pertama yang terbentuk serta mencapai kesatuan di Eropa Barat yaitu. Spanyol, Portugal, Inggris, Perancis dan Belanda.

2.5 Kerajaan nasional Spanyol, Portugal, Inggris, Belanda dan Perancis

2.5.1 Kerajaan nasional Spanyol
Latar belakang terbentuknya negara nasional Spanyol adalah sejalan dengan sentimen terhadap kekuasaan Islam di Spanyol sejak tahun 711 (abad 8 ) sampai 1492 ( abad 15) yaitu dinasti Ummayah yang berpusat di Cordoba (disebut pula Kalifah Barat) Konsolidasi Spanyol tercapai pada tahun 1469 setelah terjadi perkawinan antara Ratu Isabella dari kerajaan Kristen Castilia dengan Raja Ferdinand dari kerajaan Kristen Arragon. Pada tahun 1492 kota Islam yang terakhir yaitu Granada berhasil direbut mereka. Kesatuan Spanyol pada waktu itu kurang utuh bila dibandingkan Perancis dan Inggris karena ada konflik Ras, agama, bahasa dan perasaan kebangsaan lokal.
Jauh sebelumnya, Spanyol adalah satu kerajaan islam dengan nama Andalusia. Sampai akhirnya, satu per satu kota-kota itu direbut oleh Spanyol, Cordoba, Sevilla (pusatekonomi), Jerez (pusatmiliter), Pantai Mediterania dan Lembah Ebro. Wilayah Spanyol dan Portugal berada dalam semenanjung yang dulu namanya, Iberia. Sejak abad ke 5 M, daerah ini dikuasai oleh bangsa Vandals, maka wilayah ini, terutarna bagian selaian disebut Vandalusia. Menjelang kedatangan Islam, daerah ini dikuasai oleh bangsa Visigmh (atau disebut juga bangsa Gothia, atau bangsa Got). Pada awal abad ke 8, menjelang runtuhnya Bani Umayyah, daerah ini sudah dapat dikuasai oleh pemerintahan  Islam. Tercatat tiga pahlawan Islam yang terkenal berkaitan dengan penaklukan daerah ini. yaitu Tarif ibn Nalik, Tarik bin Ziyad dan Musa ibn Nushair. Tarif ibnu Malik dapat dikatakan sebagai perintis. Ia bersama pasukannya menyeberang selat menuju semenanjung Andalusia, menaiki empat buah kapal yang disediakan Julian, penguasa Cema. Dalam penyerbuannya Tarik memperoleh kemenangan dan kembali ke Afrika utara membawa harta rampasan perang yang cukup banyak, peristiwa ini terjadi pada tahun 91 H.
Pada tahun 711 M, Jabal ibnu Tariq, seorang komandan bani Umayah tiba di semenanjung Iberia ( Spanyol-Portugal) melalui selat Gibraltar. (Nama ini berasal dari kata Jabal Tarik dengan pengucapan lidah barat). Tarik terus memasuki Spanyol dan dalam pertempuran di Bakkah, Raja Roderck, penguasa Spanyol dikalahkan. Seterusnya, setelah mendapat dukungan dari penduduk setempat, Tarik menaklukan kota-kota berikutnya, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan Gothiasaatitu).
Sementara Tarik telah memperoleh kemenangan, kemudian pada tahun 712 M, Musa bin Nushair menyusul dengan pasukannya untuk merebut kota-kota lain. Pasukan Musa dapat menaklukan kota-kota Medina, Sidonia, Karmonia, Seville, Merida, pasukan Musa kemudian bergabung dengan Tarik di Toledo, yang kemudian mereka menuju keutara, menaklukan wilayah Aragon, Castille, Galicia, Sarragosa, Barcelona dan Praus. Pada waktu Tarik dan Musa memenangkan pertempuran-pertempuran dan menguasai kota-kota di Andalusia, maka sejak itulah Spanyol mulai dikuasai oleh Islam dibawah kekuasaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus.
Pada waktu itu sebagian besar daratan Eropa masih berada didalam kegelapan. Mereka masih hidup terbelakang dan belum mengenal peradaban. Dari semenanjung ini lah sedikit demi sedikit pasukan Umayah berhasil memperluas kekuasaan hingga mencapai sebagian besar wilayah Pay Basque di pegunungan Pirenia-Perancis hingga 200 tahun lamanya. Mereka bahkan hampir menguasai pedalaman Perancis bila saja pada pertempuran di Poitier pada tahun 733 M tidak berhasil dikalahkan pasukan Perancis dibawah raja Frank Charles Martel. Sementara itu pada tahun 755 M dinasti Umayah di Syam (Damaskus) jatuh ke tangan dinasti Abbasiyah yang beraliran Syiah. Abdul Rahman ad-Dakhil, penguasa terakhir dinasti Umayyah berhasil lolos dari kejaran Abbasiyah dan menyelamatkan diri ke Spanyol. Di negeri ini ia berhasil mempertahankan satu-satunya kekuasaan dinasti Umayah yang tertinggal dan mendirikan kerajaan Andalusia yang lepas dari kekuasaan pusat Abasiyah.
Dibawah kekuasaan Abdul Rahman an-Nashir, yang berkuasa antara tahun 912-961, Andalusia mencapai kejayaan pada segala bidang kehidupan. Kerajaan ini secara mutlak menguasai seluruh semenanjung Iberia selama 275 tahun, yaitu hingga tahun 1030 M. Sayang setelah itu ia terpecah menjadi lebih dari 20 ‘ muluk thawaif’ atau kerajaan-kerajaan kecil yang lemah dan menyebar diseluruh Iberia. Yang terkenal diantaranya adalah kerajaan Seville ( 1056-1147) dan Granada ( 1237-1492) sebelum akhirnya benar-benar lenyap setelah ditaklukkan kerajaan Kristen dibawah raja Arragon, Ferdinand II. Kerajaan-kerajaan kecil Islam ini jatuh disebabkan tidak adanya persatuan di dalam tubuh mereka. Jadi pihak Kristen sebenarnya hanya memanfaatkan kelemahan tersebut. Orang Spanyol menamakan peristiwa kemenangan mereka itu ‘Reconquista’ yang berarti Penaklukan Kembali.
Castilla dan Aragon Keduanya adalah kerajaan yang dianggap bertanggung jawab atas hancurnya Andalusia dan Granada. Namun yang menjadi catatan, kejatuhan terakhir kerajaan Islam Granada pada 1492 M sebenarnya lebih disebabkan oleh raja terakhirnya, Abu Abdullah Muhammad binAli, yang kurang memperhatikan salah satu ayat penting dalam Al-Quran. Suatu ketika ia menggabungkan pasukannya kedalam pasukan raja Ferdinand II untuk berperang melawan musuh. Namun setelah gabungan pasukan ini menang, Ferdinand berbalik menyerang dan merebut kekuasaan sang raja. Seluruh kekayaannya dirampas hingga ia terpaksa pergi meninggalkan istananya menuju Afrika dan hidup terlunta-lunta dalam kemiskinan. Dibawah raja Ferdinand II dan istrinya ratu Isabelle inilah kaum Muslimin dan Yahudi mengalami pengusiran secara besar-besaran. Berbicara mengenai terbentuknya suatu kerajaan nasional maka tidak akan terlepas dari pengaruh Isabella dan suaminya yang bernama Ferdinand. Dimana pada saat itu Isabella merupakan Ratu di kerajaan Castile yang ada di Spanyol. Isabella dilahirkan pada tahun 1451 di kota Madrigal di wilayah kerajaan Castile (kini bagian dari Spanyol). Sebagai gadis remaja dia peroleh pendidikan keagamaan yang ketat dan menjadi seorang Katolik yang taat. Saudara tirinya, Henry IV, jadi Raja Castile dari tahun 1454 hingga matinya tahun 1474. Pada saat itu tidak ada Kerajaan Spanyol. Daerah Spanyol sekarang terbelah-belah jadi empat kerajaan: Castile yang terbesar, Aragon di bagian sebelah utara Spanyol sekarang, Granada di sebelah selatan dan Navarre di utara.
Pada ujung tahun 1469-an, Isabella yang mungkin jadi pewaris mahkota Castile pewaris terkaya di Eropa, menjadi incaran berbagai pangeran. Saudara tirinya Henry IV, menginginkan dia menikah dengan raja Portugis. Tetapi, di tahun 1469, tatkala usianya menginjak delapan belas tahun, dia abaikan keinginan itu dan menikah dengan Ferdinand pewaris Kerajaan Aragon. Akibat ketidakpatuhan Isabella, Henry menunjuk anak perempuannya, Yuana, menggantikannya. Tetapi ketika Henry meninggal dunia di tahun 1474, Isabella menuntut mahkota Kerajaan Castile. Para pendukung Yuana tidak bisa menyetujui ini hingga pecahlah perang saudara. Menjelang bulan Februari 1479 pasukan Isabella memperoleh kemenangan. Raja John II dan Aragon mati di tahun itu juga dan Ferdinand menaiki tahta kerajaan Aragon. Sesudah itu Isabella dan Ferdinand memerintah sebagian besar Spanyol secara bersama-sama.
Dalam teori, kedua kerajaan Aragon dan Castile masih tetap terpisah, begitu juga pemerintahannya. Tetapi dalam praktek Ferdinand dan Isabella mengambil keputusan-keputusan bersama-sama dan berperan sebagai penguasa gabungan terbaik di seluruh Spanyol. Selama dua puluh tahun pemerintahan gabungannya, politik dasar mereka adalah membangun satu kesatuan kerajaan Spanyol yang diperintah oleh satu lembaga kerajaan yang kuat. Salah satu proyek pertamanya adalah penaklukan Granada, satu-satunya bagian dari semenanjung Iberia yang masih berada di bawah kekuasaan orang Islam. Pertempuran bermula tahun 1481 dan berakhir tahun 1492 dengan kemenangan mutlak di pihak Ferdinand dan Isabella. Dengan penaklukan Granada, daerah Spanyol hampir sama luas dengan daerah Spanyol sekarang ini. (Kerajaan kecil Navarre dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaannya oleh Ferdinand tahun 1512 sesudah Isabella meninggal dunia).
Pada saat-saat permulaan pemerintahannya, Ferdinand dan Isabella mendirikan pengadilan Spanyol. Pengadilan merupakan forum pengadilan gerejani, gabungan dari hakim, juri, jaksa penuntut dan penyelidik kepolisian. Pengadilan ini terkenai baik karena kekejaman hukumnya maupun ketidakadilan cara-caranya. Para tertuduh kecil harapan dan tak punya kemungkinan samasekali bela diri terhadap tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Mereka tidak diberitahu samasekali bunyi tuduhan, bahkan nama-nama si penuduh. Tertuduh yang menyangkal tuduhan dipermak habis hingga mengaku. Menurut perkiraan lama, sedikitnya 2000 orang dibakar selama dua puluh tahun pertama berlakunya pengadilan Spanyol itu, tetapi kabar-kabar berikutnya jumlah itu makin menyusut.Pengadilan Spanyol itu dipimpin oleh seorang pendeta amat fanatik, Tomas de Torquemada, pendeta yang biasa menerima pengakuan pribadi Isabella. Kendati pengadilan sudah diberi limpahan wewenang oleh Paus, dalam praktek dia di bawah pengawasan raja-raja Spanyol.
Pengadilan inkuisisi ini sebagian dimaksud agar terjamin keseragaman agama, dan sebagian dimaksud untuk menggencet mereka yang beroposisi terhadap Raja. Di Inggris, pangeran-pangeran feodal selalu bisa memelihara kekuatan cukup untuk mengawasi kekuasaan Raja. Pangeran feodal Spanyol suatu saat juga punya wibawa, tetapi raja-raja Spanyol mampu menggunakan pengadilan inkuisisi sebagai senjata menghadapi pangeran feodal yang tidak mau dicucuk hidung begitu saja, karena itu mereka juga mampu membangun suatu monarki yang terpusat dan absolut. Mereka juga gunakan itu untuk punya pengawasan lebih besar terhadap pendeta-pendeta Spanyol.
Tetapi, tujuan utama pengadilan inkuisisi adalah mereka yang dicurigai murtad dari agama, khusus Yahudi dan Islam yang sedikitnya sudah berpindah jadi Katolik tetapi secara diam-diam masih tetap menjalankan ibadah agama asalnya. Pada mulanya, pengadilan inkuisi tidaklah ditujukan melawan Yahudi. Tetapi, di tahun 1492, atas tekanan si fanatik Torquemada, Ferdinand dan Isabella menandatangani sebuah dekrit yang isinya memerintahkan semua Yahudi Spanyol masuk Kristen atau angkat kaki tinggaikan Spanyol dalam tempo empat bulan, tanpa boleh membawa barang miliknya walau sepotong. Buat Yahudi Spanyol yang berjumlah sekitar 200.000 orang, perintah pengusiran ini betul-betul suatu malapetaka dan banyak yang menghembuskan napas terakhir sebelum kaki sempat menyentuh pelabuhan yang aman. Untuk Spanyol, pengusiran ini berarti kehilangan sejumlah besar penduduk yang paling rajin dan paling berkeahlian dalam dunia dagang dan pertukangan sehingga menyebabkan kemunduran ekonomi yang hebat.
Ketika Granada menyerah, perjanjian damainya menyediakan peluang buat kaum Muslimin yang ada di Spanyol diijinkan boleh tetap beribadah menurut ajaran agamanya. Kenyataannya, pemerintahan Spanyol tak lama sesudahnya mengkhianati perjanjian itu. Oleh sebab itu kaum Muslimin berontak, tetapi dapat ditumpas. Tahun 1502 semua kaum Muslimin yang berada di Spanyol dipaksa masuk Kristen atau dihalau pergi, pilihan serupa yang pernah disodorkan kepada kaum Yahudi sepuluh tahun sebelumnya.
Meskipun Isabella seorang pemeluk Katolik yang taat, dia tak pernah mengijinkan keortodoksannya mengganggu nasionalisme Spanyolnya. Dia dan Ferdinand berjuang keras dan berhasil meyakinkan bahwa gereja Katolik di Spanyol diawasi oleh Kerajaan Spanyol, bukan oleh Paus. Ini merupakan salah satu sebab mengapa kaum pembaharu Protestan di abad ke-16 tak berkesempatan peroleh kemenangan di Spanyol.Yang teramat menonjol di masa pemerintahan Isabella, tentu saja, penemuan dunia baru oleh Christopher Colombus yang juga terjadi di tahun 1492 yang menentukan dan penting. Ekspedisi Colombus disponsori oleh kerajaan Castile.
Isabella meninggal dunia tahun 1504. Selama hidupnya dia melahirkan seorang putra dan empat putri. Putranya Yuan meninggal tahun 1497. Puterinya yang paling terkenal adalah Yuana. Ferdinand dan Isabella mengatur agar Yuana kawin dengan Philip I (si tampan) putera Kaisar Hapsburg Austria dan pula ahliwaris Kerajaan Burgundy. Hasil dari perkawinan dinasti yang luar biasa ini, cucu Isabella, Raja Charles V, mewariskan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Eropa. Dia juga terpilih jadi Kaisar Roma yang suci dan merupakan orang terkaya dan Raja terkuat di Eropa pada masanya.
Daerah yang berada di bawah kekuasaanya termasuk Spanyol, Jerman, Negeri Belanda, Belgia, Austria, Swiss, sebagian besar Italia, sebagian Perancis, Cekoslowakia, Polandia, Honggaria, dan Yugoslavia dengan tambahan sebagian besar daerah Amerika Selatan.Baik Charles V maupun puteranya Philip II penganut Katolik yang taat, yang sepanjang masa pemerintahannya menggunakan kekayaan Amerika Selatan untuk membiayai perang melawan negara-negara Eropa Utara yang menganut Protestan. Jadi, perkawinan antar dinasti yang diatur Ferdinand dan Isabella mempengaruhi jalannya sejarah Eropa selama hampir seabad sesudah kematian mereka.
Dengan demikian kami menyimpulkan berkat kerja besar dan pengaruh Ferdinand dan Isabella serta kerjasama keduanya, mereka berhasil membangun kerajaan Spanyol yang bersatu, yang daerah perbatasannya cukup mantap, dan tidak mengalami perubahan selama lima abad. Mereka berhasil membentuk pemerintahan monarki yang terpadu, tersentralisir, dan mutlak di Spanyol. Pemberontakan kaum Muslimin dan Yahudi punya konsekuensi penting baik bagi mereka yang terhalau maupun bagi Spanyol sendiri. Ketaatan mereka yang teguh kepada agama dan pendirian pengadilan inkuisisi punya akibat mendalam terhadap keseluruhan masa depan Spanyol.
Pokok terakhir dari hasil-hasil yang telah dicapai membuka permasalahan. Secara sederhana seseorang bisa bilang, pengadilan inkuisisi menjadi hambatan bagi perkembangan intelektual Spanyol. Di abad-abad sesudah tahun 1492, umumnya Eropa Barat telah mencapai tingkat kemeriahan kemajuan ilmu pengetahuan dan ketinggian intelektual. Hal ini tidak terjadi di Spanyol. Di suatu masyarakat yang tiap orang yang punya beda pendapat selalu dicekam bahaya penangkapan oleh pengadilan inkuisisi, tidak aneh jika masyarakat macam itu kehilangan pribadi samasekali. Negeri-negeri Eropa lainnya memperbolehkan adanya beda pendapat. Di Spanyol, inkuisisi cuma membolehkan Katolik yang dua puluh empat karat.
Menjelang tahun 1700, Spanyol merupakan negeri yang jompo secara intelektual dibanding lain-lain negeri Eropa Barat. Memang, meskipun hampir lima abad sesudah Ferdinand dan Isabella untuk pertama kali mendirikan pengadilan inkuisisi, dan kendati lebih dari 140 tahun sejak inkuisisi akhirnya dihapus, Spanyol masih tetap belum pulih dari akibat-akibatnya.
2.5.2        Kerajaan Nasional Portugal
       Cikal bakal Kerajaan nasional Portugal merupakan Subvasal dari kerajaan Leon Castillia (Spanyol). Pada abad 14 yaitu tahun 1385 tentara Portugal dibantu Inggris memerangi Kerajaan Castilia dan kalah sehingga ambisi untuk menaklukan Portugis terhenti. Kerajaan nasional Portugal adalah sebuah negara di Eropa bagian barat daya, berbatasan dengan Spanyol di sebelah utara dan timur. Di sebelah barat berbatasan dengan Samudra Atlantik.
       Selain itu, Portugal juga mempunyai daerah di Madeira, Azores dan Kepulauan Selvagens. Nama lama atau latin dari negara ini adalah Lusitania. Kata "Portugis" sering dipakai untuk menyebutkan penduduk atau orang yang berasal dari Portugal. Kata ini juga sebutan untuk bahasa yang dipakai oleh bangsa ini. Negara-negara berbahasa Portugis sering disebut sebagai negara-negara Lusophone.
       Kerajaan Portugal adalah sebuah monarki yang berpusat di Lisboa,Semenanjung Iberia, yang berdiri sejak 1139 hingga 1910, dan selanjutnya digantikan oleh Republik Portugal Pertama. Kerajaan ini memiliki daerah yang luas yang disebut Imperium Portugal sejak 1415. koloni-koloninya meliputi Brasil, berbagai wilayah di Afrika, dan pernah menguasai sebagian Nusantara, Malaya dan India. Raja-rajanya yang terkenal adalah Afonso I (dari Wangsa Burgundi, memerintah 1139-1185) dan Manuel II (Wangsa Braganza, 1908-1910).
            Kerajaan Nasional Portugal yang dulunya menjadi satu dengan Spanyol adalah negara kecil di bagian paling barat Eropa dengan komunitas agama Katolik. Oleh sebab itu pada zamannya, Paus Agung menyatakan Portugal memisahkan diri dari Spanyol untuk memperkokoh kekuatan agama Katolik dengan memperluas komunitas Katolik di setiap bagian negara di Eropa. Lahirnya peradaban Portugis bermula dari ibukota lama sejak abad X, yaitu kota Guimaraes di wilayah Minho yang pemandangannya asri sepanjang sungai Selho. Pemerintahannya diawali oleh Raja D. Henrique pada tahun 1112, diteruskan oleh anaknya Afonso Henrique yang kemudian menyatakan pada 24 Juni 1128 adalah hari kebangkitan bangsa Portugis.
2.5.3        Kerajaaan Nasional Inggris
       Kerajaan Inggris (setelah tahun 1284 juga termasuk Wales) adalah sebuah negara berdaulat sampai tanggal 1 Mei 1707. Kemudian Undang-Undang Kesatuan yang menyatakan bahwa Kerajaan Inggris dan Kerajaan Skotlandia disatukan secara politik untuk membentuk Kerajaan Britania Raya disahkan pada tahun 1707. Pada tahun 1801, Britania Raya bersatu dengan Kerajaan Irlandia dengan disahkannya Undang-Undang Kesatuan 1800 dan kemudian namanya berganti menjadi Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia. Berikut ini akan dijelaskan mengenai terbentuknya bangsa Inggris (zaman kelt dan zamananglo-saxon dan anglo Perancis).
A.    Zaman Anglo Saxona.
 a.       Suku-Suku Iberia dan Suku-Suku Kelt
       Di kepulauan Britanian itu orang-orang Iberia melalui berbagai tingkat peradaban dari zaman batu sampai ke zaman logam. Dari abad ke-7 SM sampai abad ke-3 SM, suku-suku bangsa Kelt yang mula-mula mendiami Jerman barat-laut dan negeri Belanda bergerak melintasi benua Eropake segala penjuru. Sebagian dari suku ini menyeberangi lautan dan menyerbukepulauan Britania secara bergelombang. Hubungan antara orang-orang Kelt dan orang-orang Iberia di Kepulauan Britania mula-mula aialah hubungan antara yang menaklukan dan yang ditaklukan, tetapi keduanya lama kelamaan bercampur. Daerah-daerah Inggris selatan dan tenggara merupakan tempat-tempat dimana orang-orang Kelt mencapai tingkat kehidupan ekonomi dan kebudayaan yang tertinggi.
 b.      Inggris  di bawah kekuasaan Roma
       Tahun 55 dan 54 SM balatentara Roma menyerbu Inggris. Tetapi penyerbuanitu belum berakibat dikuasainya Inggris oleh Roma, karena bala tentara itu segeraditarik kembali. Kemudian tahun 43 M Roma melakukan penyerbuan lagi danmengalami kemenangan.
 c.       Penyebaran Agama Kristen di Inggris
Agama Kristen masuk di kalangan orang-orang Anglo-Saxon menjelang akhir abad ke-6 dari dua jurusan, yaitu dari selatan dan utara. Penyebaran agama Kristendari selatan mulai dengan  mendaratnya  Agustinus  dari  Roma dengan 40  pengikutnya di daerah Kent. Orang-orang Wales membantu mengkristenkan orang-orang Aglo-Saxon melalui seorang rohaniawan yang bernama Patricius.
 d. Serbuan Orang-orang Skandinavia
Menjelang akhir abad ke-8, Inggris mendapat serangan-serangan pertama dariorang-orang Viking. Pada pertengahan abad ke-9, Inggris bagian utara dan timur hampir seluruhnya sudah dikuasai oleh orang-orang Skandinavia. Mereka kemudianmulai mengarahkan serangan-serangan mereka ke Wessex.
 e.       Feodalisme Tumbuh di Inggris
Sistem ini mulai tampak bentuknya kira-kira dalam abad ke-10 dan mencapai kejayaanya pada dua abad berikutnya. Feodalisme bukanlah hasil   perancanaan, melainkan feodalisme yakni tumbuh dari keadaan setempat. Inggris diperintah oleh seorang raja dan penyatuan seluruh Inggris terlaksana dibawah raja Edgar (959-975). Kata  feodalisme sesungguhnya berdasarkan kata feudum atau tanah titipan. Dan memang sebagian besar negara waktu itu diatur menurut azas feodalisme. Pun dalam tata mayarakat, prinsip yang menjadi  lazim  ialah bahwa setiap orang  memiliki seorang  tuan (lord)´yang wajib ia layani dan dari siapa ia memperoleh perlindungan, peradilan, dan jaminan penghidupan. Hubungan  pribadi antara bawahan dan atasan merupakan tali pengikat yang mempersatukan seluruh masyarakat, bahkan seluruh negara.
B.     Zaman Anglo –Perancisa
 a.       Pemerintahan Edward The Confessor dan Penaklukan oleh Normadia
Di atas telah dikemukaan bahwa para pengganti Canute tidak mampu mempertahankan konfederasi Anglo-Denmark, sehingga Inggris berdiri sendiri hubungan Inggris dengan Denmark semakin jauh karena raja baru itu telah berorientasi kepada Perancis. Maka tatkala Edward menduduki tahta Inggris, ia mengangkat orang-orang Normandia dalam kedudukan-kedudukan tinggi baik di lingkungan Gereja maupun dalam pemerintahan. Pada tahun1066 raja yang saleh dan lemah itu meninggal tanpa mempunyai keturunan yang dipilih oleh Witan sebagai penggantinya ialah Harold, putra Godwin, Earl of Wessex. Namun pengangkatan Harold ini ditentangoleh Harald Hadrada, raja Norwegia dan William, Duke of Normandy, karena merasa berhak juga atas tahta Inggris.
Menjelang akhir  bulan September 1066 pasukan Norwegia mendarat dibagian utara Inggris, namun dapat dikalahkan oleh Harold. Beberapa minggu sesudah Harold berhasilmengalahkan pasukan-pasukan Norwegia, ia sendiri dikalahkan dan terbunuh oleh pasukan Willian dari Normandia di suatu tempat di Inggris selatan yang bernamaHastings.
Williammenjadi Raja Inggris setelah kemenangannya di Hastings. Dengan pemerintahannya, William telah mencergah timbulnya anarki yang merupakan bahaya yang selalu mengancam dalam sistem feodal, dan memulai pertumbuhan birokrasi kerajaan yang efektif. William tidak saja mengadakan perubahan-perubahan dalam sistem pemerintahan, tetapi juga di bidang keagamaan, salah satunya yaitu pemisahan antara peradilan Gereja dan peradilan sekuler. \
 b.      Raja-Raja Anglo-Norman
Sesudah William I yang meninggal tahun1087 telah mewariskan suatu monarki serta suatu kerajaan yang cukup mantap berkat perpaduan tiga cara pengendalian, ialah melalui sistem feodal, administrasi pusat, dan pemerintahan daerah. Garis Normandia dilanjutkan oleh William Rufus atau William II (1087-1100), putera tertua William I. Di bawah pemerintahan William II terjadi sengketa antara raja dan Gereja. Penyebab pokok berkisar sekitar kekuasaan dan kekayaan duniawai yang dimiliki gereja dan cenderung menimbulkan rasa cemas dan iri di kalangan sekuler, dan konflik tersebut masih berlanjut tatkala William Rufus meninggal dan digantika oleh adiknya, yaitu Henry (1100-1135). Pada masa pemerintahan Henry suasana semakin membaik. Namun setelah kematian Henry I dan digantikan oleh Stephen of Bloissuasana menjadi semakin memburuk dan terjadi anarki dan kesewenang-wenangandan berlangsung terus sampai meninggalnya Stephen tahun1154 yang kemudiandigantikan oleh Henry II.
 c.       Pemerintahan Henry II (154-1189)
Pada waktu Henry II dinobatkan sebagai raja, ia sebagai Count of Anjou telahmenguasai daerah-daerah luas di Perancis yang meliputi lebih dari separuh negeri itu. Henry II memiliki sifat-sifat kepemimpinan dan dinamika yang memadai. Syarat lainyang harus dipenuhi untuk dapat menguasai daerah-daerah seluas itu ialah suatu aparat permanen yang benar-benar efektif.Melalui hukum, Henry II telah berhasil memperkuat pemerintahan kerajaan, suatu hal yang sangat diinginkan golongan-golongan menengah dan bawahan waktu itu. Henry II berhasil mencegah anarki dalam kerajaannya, namun sebaliknya ia gagal mencegah dalam keluarganya sendiri. Kedua puteranya memberontak terhadapnya pada tahun1188 dengan bantuan raja Perancis.
 d.      Perang Salib
Perang Salib dimulai tahun1096 dan secara terputus-putus berlangsung selama dua abad. Perang ini mula-mula bertujuan utama merebut kembali Jerusalem dari tangan pemeluk-pemeluk agama Islam yang dikabarkan telah memberikan perlakuan kurang baik kepada peziarah-peziarah Kristen ke Tanah Suci itu. Diantara expedisi-expedisi yang terpenting yaitu: Perang Salib I (1096-1099), Perang Salib II (1147-1150), dan Perang Salib III(1189-1192). Perang Salib tidak  berhasil mencapai tujuan utamanya yaitu menguasai kembali Jerusalem.
 e.       Pemerintahan Richard I (1189-1199)
Richard lebih terkenal sebagai pahlawan Perang Salib III. Hak-hak khususnya sebagai raja ia gadaikan kepada adiknya John sudah terkenal sebagai orang yang tidak bijaksana dan sukar dipercaya. Selama masa pemerintahan Richard, sesungguhnya pimpinan pemerintahan dipegang oleh para justiciar, yaitu hakim agung dan pejabat kerajaan tertinggi, Hubert Walter yang berhasil dalam menjaga ketertiban dan keamanan. Pemerintahan yang dijalankan Hubert Walter hanya 4 tahun dan berakhir ketika Richard I yang diwakilinya terbunuh diPerancis. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh John.
 f.       Magna Charta
Raja John (1199-1216) sering dianggap sebagai raja terburuk yang pernah memerintah di Inggris. Magna Charta (Piagam Agung) ditandangani oleh John untuk memenuhi tuntutan para bangsawan pada pertengahan tahun 1215. Magna Charta atau The Great Charter berisi masalah-masalah khusus, dan yang terpenting ialah bahwa tidak  boleh lagi dipungut pajak-pajak tambahan tanpa persetujuan  Great Council (Majelis Agung), dan menangkap orang bebas (freeman) adalah tindakan melawan hukum kecuali jika sesuai dengan penilaian sah para atasan orang tersebut atau sesuai dengan hukum yang berlaku. Raja John meninggal tahun  1216 dan tahta kerajaan diserahkan kepada puteranya yang berumur 9 tahun yang memerintah sebagai Henry III.
 g.      Pemerintahan Henry III (1216-1272)
Henry III dinobatkan menjadi raja pada saat berusia 9 tahun. Henry adalah pemimpin yang cenderung lemah dan kurang negarawan. Kelemahan Henry dimanfaatkan oleh beberapa pihak terutama pimpinan gereja dari Roma dan bebebrapa kerabat dari Perancis. Ketidaksenangan masyarakat terhadap pemerintahan Henrry juga dipicu dengan leluasanaya pemerintah pada saat itu memberikan jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan kepada teman dan kerabat dekatnya. Hal itu kemudian mendorong adanya pemberontakan dari masyarakat. Kemudian mereka menuntut Henry menyerahkan pemerintahanya kepada 15 dewan yang di sebut Barons. Akhirnya terjadi peperangan yang kemudian mengakhiri pemerintahan Henry III.
 h.  Pemerintahan Edward I dan Lahirnya Parlemen Inggiris
Dibawah pemerintahan Edward I badan ini kemudian dikenal dengan sebutan  parliement (parlement) yang kemudian semakin nyata bentuk dan fungsinya, raja Edward mengambil pelajaran dari pemerintahan ayahnya bahwa pemerintahan kerajaan akan berjalan lancar apabila raja dan penerintahanya berhubungan erat dengan rakyatnya.
 i.        Edward II dan Edward III
Edward II adalah pemimpin yang mempunyai tipikal lemah dan mudah dipengaruhi oleh para penasehat-penasehat ambisius. Namun konflik- konflik  tidak mempengaruhi jalannya keadaan masyarakat,  hal itu merupakan suatu bukti kemantapan lembaga-lembaga pemerintah yang berangsur-angsur tumbuh. Pada pemerintahan Edward III , ia berhasil memulihkan kewibawaan seorang raja. Pertama ia melakukan penyempurnaan dalam aparatur pemerintah dengan diangkatnay justices of the peace di setiap  county yang bertugas membatu pemerintah dalam melaksanakan permasalahan di masing-masing daerah. Dalam pemerintahan Edward III lebih terbuka dengan bangsa asing, sehingga hal itu mempermudah pihak asing memberikan bantuanya dalam berperang. Skotlandia akhirnya dapat ditaklukan pada tahun 1333. Namun kemudian setelah 8 tahun melepaskan diri lagi.
 j.        Perang Seratus Tahun
Perang seratus Tahun adalah perang antara monarki Inggris dan Perancis. Salah satu penyebab perselisihan ini adalah bahwa monarki Inggris masih menguasai daerah selatan Perancis yaitu Gascony. Di bidang ekonomi terdapat persaingan dalam masalah angkatan laut sehingga sering terjadi bajak membajak. Selain itu peperangan dipicu dengan kenyataan bahwa pada zaman Pertengahan Inggis merupakan negara eropa yang terkuat walaupun relatif kecil. Hal itu dikarenakan pemerintahan serta lembaganya yang berhasil menjaga keamanan dan ketertiban dalam negeri.
Di sisi lai Perancis mempunyai daya tarik yang besar bagi orang-orang Inggris karena negara itu lebih luas, besar, beradap dan kaya. Namun masih lemah karena tidak mempunyai pemerintahan yang baik. Peperangan ini berlasung lama yang kemudian menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri ke dua negara.
Dalam perang tersebut pasukan Perancis terdiri dari beberapa kalangan bangsawan dan para vasalnya sesuai dengan kebiasaan bangsa feodal. Sementara itu pasukan Inggris terdiri dari prajurit-prajurit wajib militer dari para sukarelawan dan beberapa yang dibayar oleh para bangsawan yang mempunyai ambisi dalam perang tersebut.
Dalam perang tersebut kemenangan berhasil diraih oleh Perancis yang semangat nasionalismenya mulaimeluap-luap. Dalam bidang politik, Inggris menjadi negara yang tidak lagi mudah terlibat dengan permasalahan-permasalahan di dataran eropa. Dengan kehilangan daerah-daerah di Perancis maka pemerintah dapat lebih berkonsentrasi terhadap permasalahan- permasalahan dalam negeri.

C.    Reformasi keagamaan ( zaman Tudor )
 a.       Henry VII dan konsolidasi Negara Nasional
Dalam menghadapi permasalahan dan pemulihan keamanan Henry VII bertindak bijaksana dan mantap dengan tujuan yang ingin dicapainya. Henry tidak mempunyai birokrasi yang dibayar. Untuk melaksanakan tugasnya ia menggunakan lembaga-lembaga yang sudah ada. Di zaman Dinasti tudor sebagian kekayaan berasal dari golongan menengah yang melakukan produksi misalnya Produksi Wol yang cenderung tidak terpengaruh dengan adanya permasalahan-permasalahan keagamaan maupun permasalahan pemerintahan. selain itu pada masa pemerintahan Henry VII ini, kebijaksanaanya berhasil membawa kemantapan Nasionalisme dan meningkatkan kemakmuran masyarakat Inggris, Ia tidak menghendaki adanya peperangan yang hanya akan menghambur-hamburkan harta dan jiwa masyarakat Inggris.
 b.      Reformasi dan Permasalahan Keagamaan
Reformasi negara Inggris pada tahun 1509-1547 terjadi pada masa raja Henry VIII, yang di dampingi oleh penasehatnya Thomas Wolsey. Reformasi dalam hal ini dilatarbelakangi oleh rakyat Inggris yang  sudah tidak tahan lagi dengan doktrin-doktrin keagamaan yang dibuat oleh Gereja katolik Roma. Gerakan itu lebih cenderung mengarah pada ajaran Protestan. Dan gerakan tersebut disambut baik oleh rakyat Inggris. Menjelang akhir abad ke15 terdapat peningkatan dalam bidan ilmu pengetahuan, akibat dari membaiknya keamanan dan peningkatan sebagai usaha Henry VIII dan masuknya pahan Renaissance.
Selain adanya revolusi keagamaan tersebut masih terdapat unsur- unsur lainnya yang tidak kalah pentingnya yaitu Anti- Klerisme dan Nasionalisme. Sebagai akibat dari kelemahan Rokhaniawan sendiri, gereja telah kehilangan pemimpin intelektuil dan di bidang moril.
Selain itu juga adanya gerakan Protestanisme dari jerman yang berpangaruh terhadap reaksi- reaksi dari masyarakat, ada yang bergabung dalam gerakan tersebut ada pula yang beralih pada Agama Ortodox. Pada waktu itu Henry VIII tidak mempunyai keturunan laki-laki, dan paus memberikan pengesahan kepadanya Untuk menikahi janda kakaknya ChaterinAragon padahal ia ingin menikahi Ana boyle sebagai keturunan Spanyol. Semenjak peristiwa itu Henry VIII menyadari bahwa selama ini Inggris mengalami ketimpangan kedaulatan. Sebagai negara yang berdaulat seharusnya Inggris harus dapat menentukan sendiri segala urusan yang terjadi di dalam negri tanpa campur tangan dari pihak lain.
Ketidakjelasan dalam permasalahan Keagamaan masih dirasakan sampai Henry VIII meninggal. Inilah salah satu pondasi yang diletakan oleh Henry VIII bagi Inggris di zaman modern. Kepribadian Henry yang luar biasa berhasil meletakan dasar-dasar utama bagi pertumbuhan negaranya. Dengan cara pemulihan ketertiban umum serta kewibawaan pemerintahannya, eliminasi kekuatan para bangsawan agung merupakan saingan bagi pemerintah nasional. Pemerintahan Monarki melalui dewan raja dan perlemen berwenang dalam semua segi kehidupan bangsa (Omnicompetent), pengelolaan Ekonomi, pembentukan angkatan laut kerajaan.
Setelah Henry VIII digantikan anaknya yaitu Edward VI permasalahan agama ditangani dengan lebih toleran, kebebasan rakyat untuk memilih agama katolik atau protestan sangat dihargai. Pada pemerintahan Marry permasalahan agama yang bertahun-tahuntelah mengalami perbaikan akhirnya kembali pada kondisi lama yaitu pemaksaan keyakinan untuk menaati doktrin -doktrin gereja Katolik Roma. Mary ingin menghilangkan revolusi keagamaan dan kebanggaan Nasional rakyat Inggris yang telah susah payah dicapai. Dia juga membangun hubungan baik dengan Spanyol dengan cara menikah dengan Raja philip. Namun pernikahan tersebut justru membawa kerugian bagi Inggris karena Spanyol tidak mau tersaingi oleh Inggris dalam perdagangan sehingga terkadang Philip menggunakan cara-carayang licik untuk mengelabuhi perdagangan Inggris.
 c.     Penyelesaian Permasalahan Agama ( Elizabeth1558-1603)
Penyelesaian permasalahan agama merupakan kebijaksanaan pada masa pemerintahan Elizabet 1. Dalam usahanya dia bersama parlemen membuat undang-undang untuk meniadakan gereja katolik Roma dan meniadakan kekuasaan paus. Dan dibuatnya  “book of common prayer” satu-satunya buku kebaktian yang sah dan membentuk gereja Nasional yaitu gereja Anglikan denganmonarki Inggris sebagai pimpinan tertinggi. Disamping itu juga timbul golongan separatis dari kaum Protestan radikal yang menolak adanya gereka nasional. Namun secara umum usaha pemecahan yang dilakukan oleh ratu Elizabeth 1 merupakan kebijakan yang tepat, terbukti gereja Anglikan masih bertahan sampai saat ini. Disamping penyelesaian permasalahan agama Elizabet juga memprakarsai kebijakan mengenai perdamaian dengan Skotlandia, Pengukuhan negara nasional, memperluas Ekspansi perdagangan internasional, kejayaan armada laut diatas Spanyol.
Di bawah pemerintahan raja-raja Tudor tumbuh kesadaran dan kebangsaan nasional yang kuat bersamaan dengan semakin mantapnya keadaan di dalam negeri dan semakin menanjaknya martabat negara dalam percaturan politik di Eropa. Pada masa James 1(1603-1625) terdapat pertegangan antara kaum High Church (katolik) dengan kaum Puritan (orang protestan extrim). Situasi ini diwariskan kepada pemerintahan Charles 1 (1625-1649). Konflik ini mendorong perang dengan Skotlandia. Perpecahan antara kelompok Puritan (parlemen) dengan Anglikan semakin memanas ketika ada pembunuhan besar-besaran dan terjadilah perang saudara.
Setelah kematian Charles, Inggris berubah menjadi negara republik. Cara-cara radikal ke arah perubahan menemui jalan buntu, Inggris kembali ke cara-cara yang tidak meninggalkan lembaga-lembaga tradisionil. Charles II melaksanakan pemerintahan dengan raja absolut dan agama khatoliknya. Dia mencoba meniru model Perancis, dan kerjasama rahasia dengan Perancis pun dilakukan. Sementara itu Charles bersekutu dengan Belanda untuk melawan Perancis dan Katolisisme. Persekutuan ini dikarenakan Inggris percaya bahwa di bawah monarki Protestanlah kelangsungan hidup sistem parlementer dan Gereja Anglikan dapat dijamin.
Charles II diganti James II (1685-1688) yang beragama Katolik. Dalam pergantian ini James mendapat dukungan partai Tory dengan catatan James akan memenuhi janjinya untuk memisahkan urusan agama dengan urusan negara. Namun James  menginginkan  untuk  mengembalikan  Inggris ke pengakuan Gereja Katolik Roma. Orang-orang Katolik diangkat menjadi pejabat negara, gereja, universitas, bahkan gereja.

2.5.4        Kerajaan Nasional Perancis
       Kerajaan Nasional Perancis dirintis sejak Lous IX dari dinasti Capet abad 13 yang berhasil memperluas Royal Domein meliputi separuh dari wilayah Perancis. Pada masa raja Philippe auguste dan Louis VIII  mereka membawa Perancis menjadi kerajaan akbar di kawasan barat,dan selama pemerintahanya  ada masalah yaitu pertikaian dengan raja Henri Iiplagentiat, vasalnya yang kuat yang sekaligus adalah raja Inggris. Perang 100 tahun melawan Inggris yang telah disinggung di atas telah menumbuhkan sentimen nasional di Perancis. Kematian seorang pahlawan wanita Perancis bernama Joan d’Aarc ( Jeanne d’Arc) pada tahun 1431 telah menjadi faktor pemersatu.
       Masa Saint Louis,ia memerintah di masa kejayaan dari sebuah bentuk pemerintahan monarki feodal,dan raja perancis tampil sebagai juru damai beragamakristen. Raja Philiipe III dan Felife IV merupakan pribadi yang sulit diduga dan dikenal  karena ia menghukumanggota ordo temple dan menyalahgunakan kekuasaanaya di bidang moneter.

2.5.5        Kerajaan Nasional Belanda
Pada abad pertengahan,Daerah yang sekarang ini disebut Belanda terdiri dari sekelompok daerah pemerintahan para hertog yang otonom (Geire, Brabant) dan wilayah yang diperintah oleh para graf (Holland dan Zeeland) serta daerah keuskupan Ultrech. Di bawah pemerintahan Karel V (1500 – 1558) daerah-daerah itu dipersatukan dengan Belgia dan Luksemburg dan disebut “Tanah-tanah Rendah”, yang waktu itu merupakan bagian dari Kerajaan besar Bourgondia Habsburg (= Spanyol).
Negara Belanda Merdeka pertama kali didirikan pada tahun 1568, ketika beberapa daerah Belanda Utara memberontak kepada Phillips II, Raja Spanyol (yakni tuan tanah Bourgondia Habsburg). Perjuangan kemerdekaan ini dipimpin oleh Pangeran Willem Van Orange (1533-1584) yang disebut juga Bapak Tanah Air. Itulah permulaan Perang Kemerdekaan 80 tahun.         
       Berbicara Belanda maka disini tidak akan terlepas dari pengaruh Spanyol yang pada saat itu menguasai hampir seluruh daratan Belanda sekarang. Belanda pada wakut itu meliputi Belanda selatan (Belgia) dan Belanda Utara (negeri Belanda sekarang). Kota-kota merdeka (city states) merupakan unit-unit politik yang independen meliputi 17 propinsi antara lain Antworpen, Brussel, Rotterdam, Utrech dan seterusnya. Pada masa pemerintahan Phillip II (1556-1598) menggantikan ayahnya yaitu  X Habsburg, Spanyol mengalami kejayaan dan wilayahnya termasuk Belanda dan Austria.
       Akibat adanya pengaruh yang ditimbulkan oleh Spanyol maka Ia menganggap Belanda dijaikan sebagai satelit Spanyol dan harus dimanfaatkan untuk kepentingan Spanyol. Maka pada tahun 1567 timbul pemberontakan terhadap kekuasaan Spanyol. Hal ini diakibatkan karena perbedaan agama yang jika orang-orang Belanda sebagian besar merupakan pemeluk agama Protestan sedangkan di Spanyol sendiri didominasi oleh agama Kristen.
       Pada tahun 1580 Spanyol menutup pelabuhan Lisabon bagi pedagang Belanda upaya ini untuk mematikan perekonomian terhadap bangsa Belanda. Akhirnya  Tahun 1581 Belanda Utara memproklamirkan diri sebagai Republik, namun tidak diakui oleh Spanyol baru pada tahun 1648 Spanyol mengakui Republik Belanda
.

2.6      Bidang-bidang Kehidupan di Eropa Masa Kerajaan Nasional


2.6.1    Bidang Politik dan Pemerintahan
Di Spanyol, terjadi perkawinan politik antara Ferdinand II dan Isabelle. Hal ini dimaksudkan untuk menyatukan wilayah Spanyol menjadi satu. Kebijakan yang diterapkan adalah salah satunya pengadilan inkuisisi. Pengadilan inkuisisi ini sebagian dimaksud agar terjamin keseragaman agama, dan sebagian dimaksud untuk menggencet mereka yang beroposisi terhadap Raja.
Di Inggris, didirikan Great Council atau majelis agung yang merupaka majlis para Barons. Majelis ini membicarakan permasalahan kerajaan, politik, keuangan, peperangan.Kebijaksanaan pada masa pemerintahan Edward dalam bidang politik adalah pemantapan parlemen, pembaharuan Hukum, salah satunya adalah hukum pertanahan. Mengatur adanya pajak pada Gereja dan tidak terpengaruh dengan Roma walaupun dia adalah seorang yang taat beragama, selain itu pada masa pemerintahan Edward diterapkan Bea masuk sebagai sarana pembangunan keadaan ekonomi Inggris pada waktu itu.

2.6.2        Bidang Ilmu Pengetahuan
            Di Inggris, walaupun sempat terjadi kekacauan pada saat adanya peperangan seratus tahun, dalam bidang-bidang lain seperti Ekonomi dan pendidikan Inggris mengalami kemajuan.
            Kehidupan golongan menengah yang  meningkat dan hal itu berpengaruh pula terhadap kemajuan negara secara umum. Dalam bidang pendidikan adalah banyak didirikanya sekolah-sekolah, para pengusaha dan bangsawan turut berperan dalam memberikan sumbangan bagi kemajuan pendidikan di inggris. Nama-nama sekolah yang didiriakn pada saat itu adalah public Schools ( orang awam), king’s college ( Henry VI), queen’s schools, Grammars Schools, universitas Cambridge. Bayaknya sekolah yang didirikan tersebut semakin menumbuhkan minat masyarakat untuk sadar pendidikan mulai dari kalangan bawah sampai atas. Sejak saat itu masyarakat lebih tertarik mempelajari ilmu pengetahuan.
2.6.3        Bidang Ekonomi
       Dalam bidang ekonomi dapat dilihat dari meningkatnya produksi dan eksport Wol yang mendorong para pedagang mencari eksport baru. Secara ptomatishal itu mendorong kemaajuan pelayaran dan perniagaan. Kehidupan golongan menengah meningkat dan hal itu berpengaruh pula terhadap kemajuan negara secara umum .
       Negara-negara nasional Eropa menjalankan politik merkantilisme yaitu paham yang melaksanakan kegitan perdagangan yang diatur sepenuhnya oleh negara untuk memperoleh neraca perdagangan yang aktif. Keuntungan perdagangan diwujudkan dalam bentuk logam mulia(emas) sebanyak mungkin sebagai ukuran kekayaan, kesejahteraan dan kekuasaan negara (Raja).Bagi Negara-negara yang menjalankan merkantilisme perencanaan perekonomiannya diatur sebagai berikut :
1.      Berusaha memiliki logam mulia sebanyak-banyaknya.
2.      Mengalahkan perdagangan luar negeri untuk melengkapi perdagangan dalam negeri.
3.      Meengalahkan kegiatan industri yang mengubah bahan baku menjadi bahan jadi untuk diekspor.
4.      Menggalakan pertambahan penduduk sebab banyak tenaga kerja yang banyak diperlukan untuk industry.
5.      Negara mengawasi perkembangan perekonomian dan ikut campur bila dianggap perlu.

2.6.4        Bidang Sosial Budaya
            Feodalisme bukanlah hasil perancanaan, melainkan feodalisme yakni tumbuh dari keadaan setempat. Inggris diperintah oleh seorang raja dan penyatuan seluruh Inggris terlaksana dibawah raja Edgar (959-975). Kata feodalisme sesungguhnya berdasarkan kata feudum atau tanah titipan. Dan memang sebagian besar negara waktu itu diatur menurut azas feodalisme. Pun dalam tata mayarakat, prinsip yang mennjadi lazim ialah bahwa setiap orang memiliki seorang tuan (lord)´yang wajib ia layani dan dari siapa ia memperoleh perlindungan, peradilan, dan jaminan penghidupan. Hubungan pribadi antara bawahan dan atasan merupakan tali pengikat yang mempersatukan seluruh masyarakat, bahkan seluruh negara. Pengetahuan dan kesennian berkembang berkat pengaruh Gereja, terutama kesusasteraan, musik dan arsitektur.
            Walaupun bangsa ini baru melepaskan diri dari bangsa lain namun sifat individualisme yang diwariskan dari renesains semakin membuat orang-orang eropa memiliki suatu pandangan untuk dapat menjadikan bangsanya dapat bersaing dengan bangsa lainnya yang ada dikawasan Eropa.







BAB 3. PENUTUP


3.1 Simpulan 

 Reformasi protestan di cetuskan oleh Marthin Luther (1483-1546), seorang biarawan Jerman yang dikenal dan teolog yang brilian. Luther memulai suatu pemberontakan melawan otoritas gereja yang kurang dalam satu dasawarsa mencerai beraikan tanpa terpulihkan kesatuan religius dunia Kristen. Selama akhir abad keempatbelas, dunia Kristen menyaksikan serangan – serangan sistematik pertama yang pernah dilancarkan terhadap gereja.Kebobrokan gereja seperti penjualan surat pengampunan dosa, nepotisme ( praktik pengangkatan kerabat  untuk menjadi pejabat), pemilikan tanah oleh keuskupan, dan pemuasan hawa nafsu. Dari Kebobrokan gereja seperti itu banyak tokoh yang mengecam aksi gereja tersebut untuk melakukan reformasi.
Kerajaan Nasional dipengaruhi adanya reformasi Protestan juga dipengaruhi dengan adanya zaman pencerahan. Dimana ciri-ciri yang dapat terlihat dari zaman pencerahan ialah telah memberikan  sifat dan jiwanya kepada pemikiran modern.Kerajaan Nasional pada mulanya didasarkan pada adanya kebebasan dalam persamaan bahasa atau kebudayaan, baru kemudian atas kesadaran nasional.













DAFTAR PUSTAKA
           
Sundoro, Mohammad Hadi.2007, Dari Renaisans sampai imperialism
               modern.Sejarah peradaban barat abad modern. Jember: Jember
               University Press
http://elingeuyizz.blogspot.com/2010/10/reformasi-gereja-1483-1546.html