BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Istilah Reformasi pada hakikatnya
dikumandangkan oleh orang-orang protestan yang menentang terhadap otoritas
Gereja di bawah pimpinan paus di berbagai wilayah Eropa. Pergolakan agama pada
Abad XVI mendorong timbulnya Lutheranisme, Calvinisme, Anglikanisme, dansekte
radikal, merupakan gerakan pembaharuan di seluruh Eropa menentang Gereja
Katolik dan menghendaki kemurnian agama Nasrani.
Berbibersumber pada otoritas gereja
yang sejak Abad X, telah memperoleh atau mendapat kritik masyarakat mengenai
penyalahgunaan otoritas dan mengatur keagamaan. Kaum humanis mengingatkan
melalui kritinya, bahwa Gereja dianggap gagal dalam mengajarkan agama, berdo’a,
dan tidak mencermikan pejabat-pejabat Gereja sebagai pengembang agama. Kaum
humanis, seperti Erasmus, mengajarkan agar para pejabat Gereja melakukan
Reformasi dalam tubuh Gereja. Penyalahgunaan otoritas agama oleh pemimpin
Gereja yang berlangsung selama beberapa abad itu, mendorong terjadinya
kemerosotan otoritasnya.Sekalipun Reformasi itu menyangkut masalah Gereja,
namun terdapat berbagai faktor yang mendorong lahirnya Reformasi.
Eropa merupakan kawasan munculnya renaissance atau
zaman pencerahan. Setelah terjadi reformasi protestan rupanya memberikan dampak
yang signifikan dalam kehidupan sosial, politik di kawasan tersebut. Salah satu
dampak disisi politik adalah bermunculannya kerajaan nasional. Kerajaan
nasional memiliki arti bahwa negara-negara tersebut mampu untuk memerintah
bangsanya sendiri.
Munculnya kerajaan-kerajaan nasional ini merupakan
awal mula dari munculnya merkantilisme perekonomian.Terbentuknya negara
nasional pada mulanya didasarkan pada adanya persamaan bahasa atau kebudayaan
baru kemudian atas kesadaran nasional. Negara nasional pertama yang terbentuk
serta mencapai kesatuan di Eropa Barat yaitu. Spanyol, Portugal, Inggris,
Perancis dan Belanda. Negara-negara.
Munculnya Reformasi Protestan
membawa pengaruh besar terhadap pembaharuan religius pada Negara – Negara di
Eropa, khususnya di Inggris, Perancis, Jerman dimana penyebaran Protestanisme
menyebar dengan cepat. Kerajaan nasional merupakan
langkah awal menuju ke modernan kehidupan masyarakat. Oleh karena
itu penulis memilih judul Makalah Reformasi Protestan dan sejarah kemunculan kerajaan-kerajaan nasional,
kemegahan kerajaan nasional, serta corak kehidupan masyarakat dimasa kerajaan
nasional.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1. Bagaimana
awal timbulnya Reformasi Protestan di Eropa ?
1.2.2. Aspek –
aspek apa saja yang mempengaruhi terjadinya
Reformasi Protesta Di Eropa ?
1.2.3. Siapa saja
tokoh pergerakan Reformasi Protestan beserta bagaimana
peran
tokoh-tokoh tersebut ?
1.2.4
Bagaimana
awal mula berdirinya kerajaan nasional secara umum?
1.2.5
Bagaimana
sejarah kerajaan nasional Spanyol, Portugal, Inggris, Belanda dan Perancis ?
1.2.6
Bagaimana
corak kehidupan masyarakat di era kerajaan nasional ?
1.3 Tujuan
Masalah
1.3.1
Untuk mengetahui awal timbulnya
reformasi protestan di Eropa.
1.3.2
Untuk mengetahui aspek yang
mempengaruhi reformasi
protestan di Eropa.
1.3.3 Untuk mengetahui siapa saja tokoh pergerakan
reformasi.
1.3.4 Untuk mengetahui awal berdirinya kerajaan
nasional.
1.3.5 Untuk mengetahui sejarah dari kerajaan
nasional.
1.3.6
Untuk
mengetahui corak kehidupan masyarakat era kerajaan nasional.
1.4 Manfaat
Dari penulisan makalah ini diharapkan pembaca dapat
mengetahui bagaimana pergerakan reformasi protestan di eropa dan kerajaan
kerajaan nasional di Indonesia.
BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Awal
Timbulnya Reformasi Protestan di Eropa
Renaisans telah
merevitalisasi kehidupan intelektual eropa dan dalam perjalananya membuang ke
asyikan abad pertengahan dengan teologi. Demikian pula, reformasi menandai
permulaan suatu cara pandang religius yang baru. Akan tetapi reformasi
protestan, tidak berasal di dalam lingkaran elit sarjana humanistik. Lebih
tepatnya, ia di cetuskan oleh Marthin Luther (1483-1546), seorang biarawan
Jerman yang tidak dikenal dan teolog yang brilian. Luther memulai suatu
pemberontakan melawan otoritas gereja yang kurang dalam satu dasawarsa mencerai
beraikan tanpa terpulihkan kesatuan religius dunia Kristen. Dimulai pada 1517,
reformasi mendominasi sejarah Eropa selama sebagian besar abad ke enam belas.gereja
Katolik Roma berpusat di Roma adalah suatu lembaga di Eropa yang melampaui
batas nasional,geografis ,teknis dan bahasa.Pada abad ke empat belas,sewaktu
para raja meningkatkan kekuasaan mereka dan sewaktu pusat pusat perkotaan
dengan orang awamnya yang canggih semakin banyak jumlahnya, rakyat mulai
mempertanyakan otoritas gereja internasional dan kaum pendetanya. Para
teoritisi politis menolak klaim paus atas supremasi terhadap para raja.Mereka
mengatakan bahwa paus tidak mempunyai otoritas terhadap raja, sehingga Negara
tidak membutuhkan bimbingan dari kepausan, dan bahwa kaum pendeta tidak berada
di atas hokum sekuler. Selama akhir abad keempatbelas, dunia Kristen
menyaksikan serangan – serangan sistematik pertama yang pernah dilancarkan
terhadap gereja.Kebobrokan gereja seperti penjualan surat pengampunan dosa,
nepotisme ( praktik pengangkatan kerabat
untuk menjadi pejabat), pemilikan tanah oleh keuskupan, dan pemuasan
hawa nafsu.
John Wycliffe
orang Inggris dan Jan Hus orang Bohemia, keduanya teolog terpelajar, mencela
kekayaan kaum pendeta sebagai suatu pelanggaran terhadap ajaran ajaran Kristus
dan menyerang otoritas gereja hingga kedasarnya dengan menyatakan bahwa gereja
tidak mengendalikan takdir seorang individu.
Dengan datangnya
Lutheranisme, imam pribadi lebih menjadi sentral bgi kehidupan religius kaum
Protestan Eropa ketimbang kepatuhan kepada praktik –praktik gereja. Para
Humanis Renaissans berusaha melembagakan kembali kebijaksanaan zaman kuno, para
pembaru Protestan ingin memulihkan semangat agama Kristen awal, dimana iman
tampak lebih murni umat beriman lebih tulus,dan pendeta tidak dirusak oleh
kemewahan dan kekuasaan. Pada tahun 1540-an, gereja katolik Roma telah
memprakarsai reformasi Internalnya sendiri, tetapi sudah sangat terlambat untuk
menghentikan gerakan kearah Protestanisme di Eropa Utara dan Barat.
2.2 Aspek-Aspek
Yang Mempengaruhi Timbulnya Reformasi Eropa
1. Aspek Agama
Kemunduran otoritas gereja Katolik pada akhir abad XIV
sangat bertalian dengan adanya reaksi dari orang-orang Protestan yang
mempelopori munculnya Reformasi. Protestantisme muncul di Eropa sebagai upaya
untuk memperbaiki kehidupan agama
Nasrani sebelum terbentuknya sistem kepausan, menentang hirarkhi ke Gerejaan dan
menghendaki kemurnian ajaran nasrani seperti yang diberikan Yesus Kristus. Pada
masa abad pertengahan, keluhan terhadap Gereja cukup banyak terutama yang
menyangkut kekayaan Gereja. Tiap tahun Gereja menuntut upeti dari raja, Gereja
meminta bayaran pada para Uskup pada waktu mereka diangkat, Gereja memungut
pajak tersendiri bagi pembangunan Gereja, bagi peperangan yang dilakukan dan
pelaksanaan berbagai kegiatan kerajaan, misalnya upacara-upacara keagamaan.
Salah satu sumber penghasilan yang sangat menguntungkan
dan yang kemudian menjadi sengketa besar, adalah indulgensi. Yang dimaksud
indulgensi adalah meniadakan hukuman akibat dosa dan sebagai imbalannya orang
yang bertobat itu memberikan uang tunai kepada Gereja. Kekayaan Gereja yang
sangat berlimpah mendorong para pemuka Gereja hidupnya sangat mewah,
mementingkan kebutuhan duniawi dari pada urusan keagamaan. Mereka secara
pribadi banyak menerima persembahan uang bagi orang-orang tertentu dan sebagai
imbalannya menerima surat tanda penerimaan indulgensi yang diminta.
2. Aspek Politik
Proses terbentuknya sentralisasi kekuasaan raja-raja
Eropa memperoleh bantuan dari warga kota yang sebagian besar terdiri dari kelas
menengah ikut menentang otoritas Gereja. Kekuatan politik raja-raja Eropa
mendorong pula timbulnya reformasi. Gerakan protestantisme mendorong
terselenggaranya sentralisasi kekuasaan raja-raja Eropa. Inggris dan Jerman
sebelah utara, kaum protestan memihak para raja, di Perancis dan Spanyol partai
agama bersatu dengan gerakan partikularis kaum bangsawan, bahwa agama nasional
tetap Katolik. Dalam abad XVI, mereka menuntut hak untuk menentang raja yang
turun-temurun. Bentuk penentangan itu dalam ajaran Kristen tidak berwujud suatu
kekerasan. Pandangan terakhir ini menjadi teori modern tentang kekuasaan raja
yang dari tuhan. Raja dianggap memperoleh kekuasaannya dari rakyat karena
sebab-sebab yang cukup dapat diminta pertanggung jawaban dari rakyat. Kaum
protestan dalam pertumbuhannya melakukan berbagai cara menyerang terhadap
kekuasaan mutlak baik yang dimiliki Gereja maupun raja, seperti yang terjadi di
Inggris dan Perancis. Alasan-alasan mereka menyerang kekuasaan mutlak adalah
sebagai berikut.
Yang pertama, alasan konstitusional yang dianggap sebagai
dasar kenyataan sejarah bahwa kekuasaan kerajaan mutlak banyak memberikan kesempatan
raja menyalahgunakan kekuasaan dan cenderung melakukan tindakan sewenang-wenang
pemerintahan dalam abad pertengahan tidak ada.
Yang kedua, lawan dari kekuasaan raja dapat juga
dicarikan alasan dalam dasar-dasar filsafat kekuasaan politik serta dicoba
menunjukkan bahwa kerajaan mutlak adalah bertentangan dengan azas-azas umum
dari hak yang dianggap sebagai dasar semua pemerintahan. Dibeberapa wilayah
Eropa Barat dapat disebut bahwa kaum reformasi memihak kepada raja, maka
nampaklah ide-ide protestan merembes kepada kepentingan politik dan ekonomi.
3. Aspek Ekonomi dan Sosial
Terjadinya gerakan reformasi di Eropa pada abad XVI
berkaitan pula dengan faktor ekonomi. Terjadilah masa peralihan dari sistem
ekomomi rumah tangga alam kekapitalisme dagang. Revolusi ekonomi yang terjadi
di akhir abad pertengahan mengubah kehidupan sehari-hari orang-orang Protestan
dan Katolik. Perluasan perdagangan dapat mendesak konsep lama, yakni barter dan
kekayaan atas dasar tanah diganti dengan suatu ekonomi yang prinsip pokoknya
ialah bahwa modal dapat dan harus digunakan untuk mencitakan lebih banyak
modal. Konsep materialism baru ini merupakan faktor lahirnya Reformasi.
Petumbuhan kapitalisme dagang pada akhir abad pertengahan dan penemuan-penemuan
besar mengakibatkan meluasnya perdagangan pelayaran dan yang telah ikut pula
mendorong lahirnya Reformasi.
Akibat bergesernya tatanan ekonomi pada akhir abad
pertengahan menuju kepermulaan zaman modern mempengaruhi cara panjang
masyarakat kota-kota di Eropa terhadap kehidupan sosialnya. Berkembangnya
industri dan perdagangan di berbagai kota dagang mendorong munculnya kaya baru.
Mereka harus rajin bekerja, dapat mengumpulkan kekayaan serta dapat menolong
sesame manusia yang miskin. Konsep pemikiran pejabat gereja selama abad pertengahan,
mengajarkan pentingnya hidup di surge dan akhirat, mengesampingkan pentingnya
kehidupan duniawi karena manusia dianggap penuh dosa dihadapan Tuhan, mendapat
reaksi dari para warga kota yang sebagian berasal dari orang-orang Protestan.
Pandangan masyarakat Gereja abad pertengahan bahwa dengan mengumpulkan harta
benda dengan bekerja giat dianggap kurang terpuji, maka pandangan demikian itu
mulai bergeser, banyak ditinggalkan orang. Konsep-konsep pemikiran kaum
Protestan sangat mendukung terhadap gagasan tersebut.
2.3 Tokoh
Pergerakan Reformasi Protestan
Gerakan reformasi
protestan yang di pelopori Martin Luther, John Calvin, Zwingli, John Knox dan
lain-lain berdampak luas terhadap sejarah pemikiran social, keagamaan , politik
di zaman tersebut. Gerakan ini pada awalnya adalah sebuah pemrotestan dari kaum
bangsawan dan penguasa jerman terhadap kekuasaan imperium katolik Roma. Akan
tetapi pada perkembangan berikutnya, gerakan ini memiliki konotasi lain, yaitu
dianggap dengan identik dengan semua gerakan dan organisasi yang menetang
kekuasaan paus di Roma. Ada beberapa faktor penyebab dan latar belakang
munculnya gerakan Reformis Protestan, antara lain :
1.
Produk perlawanan terhadap gereja
katolisisme.
2.
Terjadinya perkembangan Kapitalisme dan
Krisis-krisis ekonomi di kawasan imperium Roma.
3.
Penarikan Pajak-pajak yang memberatkan.
4.
Kebangkitan nasionalisme di Eropa.
Reformasi dimulai oleh Martin Luther,
yang mengalami keprihatinan pribadi karena meragukan kekuasaan gereja untuk
memberikan keselamatan.
A.
Marthin Luther (1483-1546)
Ia adalah anak seorang petani dari
suami-istri Hans dan Margareth Luther,ia di lahirkan pada tahun 1483,di kota
tambang Eisleben, Saxon, Jerman.Luther masuk Ordo Santo Agustinus di Enfurt
pada tahun 1505.Bagi Maartin Luther hakekat agama berletak pada pengalaman
batin terutama mistik dan tidak dapat di edarkan pada orang lain.Adapun
penyimpangan-penyimpangan gereja yang dilihat oleh Luther, dan
pemikiran-pemikirannya mengenai Reformasi, antara lain: (Suhelmi,
2001,hlm149-156;McDonald,1968,hlm220,233)
.a. Banyak pemuka gereja yang yang memperoleh
posisi sosial keagamaan melalui cara-cara yang tidak etis dan amoral. Mereka
tidak segan-segan menyogok petinggi gereja untuk berkuasa. Ironisnya, mereka
yang kemudian berkuasa karena menyogok melakukan tindakan tak terpuji seperti
korupsi dan manipulasi atau komersialisasi jabatan.
b. Adanya
penjualan surat-surat pengampunan dosa (indulgencies). Dengan alasan
keagamaanmembangun gereja Santo Petrus di Roma Vatikan. Paus mengumpulkan dana
melalui surat-surat itu. Mereka yang membeli surat-surat itu akan memperoleh
ampunan Tuhan. Semakin besar uang yang dibayarkan untuk membeli surat-surat
pengampunan itu, akan semakin besar dosa yang akan diampuni Tuhan; bahkan Paus
mendeklarasikan bahwa surat pengampunan itu juga bisa menghapus dosa
orang-orang (sanak saudara, sahabat, dan sebagainya) yang telah meninggal
dunia. Menurut Luther, penjualan surat-surat tersebut bertentangan dengan
ajaran Yesus Kristus. Pembelian surat-surat tersebut tidak boleh dipaksakan,
harus sukarela. Gereja juga tidak memiliki hak pemberian pengampunan dosa.
Hanya Tuhan, atas dasar kepercayaan dan amal saleh individu, yang dapat
memberikan pengampunan dosa.
c. Luther menentang doktrin sakramen suci gereja. Ia
ingin mengurangi sakramen suci ini. Menurutnya hanya dua dari tujuh doktrin
sakramen suci Gereja Roma, yaitu pembabtisan dan komuni yang harus
dipertahankan, karena hanya keduanya yang disetujui oleh Kitab Injil. Sehingga
sakramen pernikahan, perintah suci, dan pemberian minyak suci tidak dianggap
sebagai sakramen pentahbisan (McDonald, 1968, hlm 233). Kritik ini berhubungan
dengan prinsip bahwa semua orang adalah sama. Ia menentang pastor sebagai
mediator antara manusia dengan Tuhan. Bila manusia ingin selamat maka manusia
harus berbuat baik dan bertobat (langsung) kepada Tuhan. Doktrin keimanan dan
berbuat baik merupakan wacana yang telah mendesakralisasi lembaga imamat.
Desakralisasi ini mengakibatkan timbulnya tuntutan agar semua manusia dianggap
sama di hadapan Tuhan. Tidak ada kelebihan seorang pastor dibanding orang lain
kecuali amal kebajikannya. Desakralisasi ini juga menggoyahkan sistem hierarki
gereja. Para pengikut Luther menolak hierarki kependetaan karena hierarki ini
dianggap bertentangan dengan prinsip persamaan manusia di hadapan Tuhan. Luther
menolak hak istimewa pastor membaca dan menafsirkan kitab suci. Menurutnya
setiap pengikut Kristus berhak untuk membaca dan menafsirkan kitab suci. Dengan
demikian tidak terjadi monopoli kebenaran oleh pemuka agama. Untuk mendukung
gagasan ini, menurut Luther sebaiknya kitab suci diterjemahkan ke dalam bahasa
yang dimengerti rakyat, yaitu bahasa Jerman.
d. Selain itu
Luther juga menganjurkan perkawinan bagi para pastor. Gagasan ini dilihat dari
banyaknya pengalaman tidak terpuji Paus atau para pastor yang mempunyai wanita
dan anak di luar nikah. Menurutnya perkawinan bukan dosa dan merupakan tuntutan
biologis yang harus dipenuhi. Luther juga tidak menyetujui prinsip monastitisme
yang menghendaki pastor menjalankan hidup seperti biarawan atau biarawati.
Kehidupan biarawan bukanlah cara terbaik untuk mensucikan diri dan mencari
jalan keselamatan. Ia menawarkan gagasan asketisme duniawi. Orang dapat
mensucikan dirinya dan memperoleh keselamatan dengan terlibat secara intensif
dengan berbagai persoalan duniawi, asalkan apapun yang dilakukan semata-mata
untuk tujuan keagungan Tuhan. Luther juga menolak adanya ketentuan mencium kaki
Paus dan membawanya dengan menggunakan tandu ketika Paus masih dapat berjalan
sendiri. Selain itu Luther menghendaki pengurangan sejumlah bentuk misa
(McDonald, 1968, hlm 230).
e. Penyimpangan
keagamaan tidak dengan sendirinya bisa melahirkan gerakan Reformasi Protestan
seandainya tanpa diiringi oleh terjadinya perkembangan kapitalisme yang sangat
cepat dan krisis-krisis ekonomi di kawasan imperium Roma. Inilah faktor
ekonomis yang mengakselerasi kelahiran gerakan Reformasi. Perkembangan
kapitalisme yang demikian cepat di Eropa, khususnya di Italia, Jerman, Inggris,
Prancis, dan sebagainya, sejak abad Rennaisance, membawa dampak serius terhadap
doktrin keagamaan.
f. Adanya penarikan pajak yang dirasakan berat oleh kelas
bawah dan penguasa lokal. Dalam kasus Reformasi, masalah pajak ternyata
menimbulkan krisis ekonomi serius. Merasa tertekan akibat pajak penduduk,
terutama dari kalangan kelas bawah (petani, pekerja, dan sebagainya), yang berada
dalam dominasi imperium gereja Katolik, melakukan perlawanan terhadap kekuasaan
gereja yang menarik pajak dalam berbagai bentuk. Di awal munculnya gerakan
Reformasi, muncul tuntutan agar pajak-pajak dihentikan atau dikurangi. Sebab,
para penguasa lokal memerlukan dana untuk memperkuat angkatan bersenjata dan
membangun negeri-negeri mereka, sementara di lain pihak mereka diwajibkan untuk
membayar pajak dengan jumlah yang cukup besarIa mengkritik terhadap gereja
Roma,kehidupan pengadilan Roma yang di anggap mewah dan orang orang yang
bekerja di dalam nya terlalu rakus dan jahat.Gereja memungut pajak tanah yang
sangat memberatkan terhadap kehidupan
rakyat Jerman terutama pada petani.Telah terjadi korupsi yang di lakukan oleh
oknum oknum pengadilan paus dan adanya penjualan hadiah hadiah atau pangkat
dalam sistem kegerejaan.Konsep pemikiran Martin Luther ingin mengurangi
kekuasaan gereja itu.Doktrin indulgensi yang di keluarkan pejabat gereja roma
mendapat reksi keras dari Martin Luther.Ia menolak berlakunya indulgensi
sebagai penghasilan utama gereja. Ungkapan kemarahan Martin Luther di
tuliskannya senbanyak 95 tesis pada selembar poster yang kemudian di pakukan di
pintu utara gereja istama Witternberg.Selain bereaksi terhadap doktrin
indulgensi,Luther dengan tajam menyangkal kebenaran gereja katolik yang selama
beberapa abad lamanya membagi orang Kristen menjadi golongan imam dan awam,
derajat imam lebih tinggi dari golongan awam.
g. Banyak pemuka katolik memperoleh posisi social
keagamaan dengan cara yang tidak etis dan tidak normal. Seperti yang terjadi
dalam kasus Paus Leo X. Paus Katolik ini memperoleh uang sejumlah $ 5.250.000
dari hasi penjualan Gerejani. Ada juga Paus yang berperilaku amoral yang
menyangkut hubungan dengan wanita seperti yang terjadidalam kasus Paus
Alexander VII. Paus ini diketahui memiliki delapan anak haram, tujuh
diantaranya dimiliki sebelum menjadi Paus.
h. Selain itu Luther juga menolak tradisi selain itu
luther juga menolak revisi keagamaan Katolik yang sudah berlansung ratusan tahun
yaitu hak istimewa pastur membaca dan menafsirkan akitab. Menurutnya siapapun
pengikut kristus bukan hanya pendeta berhak membaca dan menafsirkan alkitab.
I. Tokoh reformis
ini tidak setuju dengan monastisisme yang mengkehendaki pastor hidup asketis dengan
cara menjalani kehidupan sebagai biarawan.
Dalam ruang
lingkup pemberontakan Luther terhadap gereja, Luther diperintahkan untuk datang
dan menemui para pemuka gereja dan melakukan adu pendapat dan adu argument
diantara mereka, akhirnya di cap menjadi Murtad oleh pembesar pembesar gereja
dan dinyatakn bersalah, kemudian diasingkan oleh Dewan Persidangan pada tahun
1521. Dan semua tulisannya tidak bias dipertanggugjawabkan. Dalam tulisannya ‘
On Christian Liberty “ Luther menegaskan bahwa bila seseorang memiliki keimanan
pasti ia akan melakukan perbuatan baik. Dasarnya mengutip “ Al Kitab : ‘pohon
yang baik tidak akan menghasilkan buah yang korup, demikian pula pohon yang
korup tidak akan menghasilkan buah yang baik “. Selain itu Luther juga menolak
Menyadari bahwa nyawanya bisa terancam karena aksinya jika di lakukan terus
menerus, Martin Luther memohon dukungan dari pangeran di distriknya, Frederick,
elector Saxony. Sang elector adalah seorang yang sangat kuat dalam politik
internasional, satu dari tujuh orang awam dan pangeran gerejawi yang memilih
Kaisar Romawi suci. Dukungan Frederick meyakinkan para pejabat gereja, termasuk
paus, bahwa rahib ini akan di tangani dengan cara yang berhati hati. Pada tahun
1520 Paus akhirnya bertindak melawan Luther, sudah sangat terlambat; Luther
sudah di beri waktu yang di butuhkan untuk menyebarkan pandangan pandangannya.
Dia memproklamirkan bahwa paus adalah anti kristus dan gereja adalah sarang
perampok yang ingkar hukum, yang paling tak tahu malu dari semua tempat pelacuran.
Ketika di sampaikan dekrit Paus yang mengucilkannya, Luther membakarnya.
B.
Erasmus Desiderius Roterodamus
Adalah seorang humanis yang
terkemuka dan merupakan perintis Reformasi. Karyanya edisi perjanjian Baru
diterbitkan pada tahun 1516 dalam Bahasa Yunani mendorong reformasi Luther.
Erasmus dilahirkan 27 oktober 1466. Ia tinggal dalam biara Augustinus selama 5
tahun (1486-1491). Pada waktu selama itu ia menulis sejumlah puisi dan karangan
prosa dan lain. Dalam tulisannya sudah tampak kritiknya pada kekuasaan gereja.
Erasmus adalah seorang tokoh yang
berjasa bagi gerakan reformasi gereja yang dipimpin oleh Luther. Luther
menggunakan edisi baru bahasa Yunani yang dikeluarkan oleh Erasamus. Erasamus
juga mengeritik keburukan-keburukan yang ada di gereja dan menasahati paus
supaya mengambil tindakan-tindakan pembaharuan gereja. Hingga tahun 1524
Erasamus bersimpati pada reformasi Luther.
C.
Zwingli
Huldrych (atau Ulrich) Zwingli lahir
di Swiss, 1 Januari 1484 adalah pemimpin Reformasi Swiss, dan pendiri Gereja
Reformasi Swiss. Reformasi Zwingli didukung oleh
pemerintah dan penduduk Zürich, dan menyebabkan perubahan-perubahan
penting dalam kehidupan masyarakat, dan urusan-urusan negara di Zürich. Gerakan
ini, khususnya, dikenal karena tanpa mengenal kasihan menganiaya
kaum Anabaptis dan para pengikut Kristus lainnya yang mengambil sikap
tidak melawan. Reformasi menyebar dari Zürich ke lima kanton Swiss
lainnya, sementara yang lima lainnya berpegang kuat pada pandangan iman Gereja
Katolik. Zwingli terbunuh di Kappel am Albis, dalam sebuah pertempuran
melawan kanton-kanton Katolik.
D.
John Calvin (1509-1564)
Yohanes Calvin
atau John Calvin lahir di Noyon, Kerajaan Perancis, 10
Juli 1509 Swiss. Ia adalah teologKristen terkemuka pada
masa Reformasi Protestan yang berasal dari Perancis. Seorang pemimpin Reformasi Gerakan Gereja di Swiss.
Merupakan generasi kedua dalam jajaran pelopor dan pemimpin reformasi gereja
abad ke-16 peranannya sangat besar dalam gereja-gereja reformatoris.
Gereja-gereja yang mengikuti ajaran tata gereja yang digariskan Calvin
tersebar. Dikenal dengan gereja Calvinisme. Sebagai pelopor Reformasi Gereja, ia menyebarkan
gagasan-gagasannya tentang bagaimana Gereja Reformasi yang benar itu
ke banyak bagian Eropa. Calvinisme menjadi sistem teologi dari
mayoritas Gereja Kristen di Skotlandia, Belanda, dan bagian-bagian
tertentu dari Jerman dan berpengaruh
di Perancis, Hongaria khususnya
di Transilvania dan Polandia.
E.
John Knox
Lahir sekitar
tahun 1513 di Haddington.Ia belajar di Universitas St.
Andrews lalu ditahbiskan menjadi imam
Katolik tahun 1536 dan menjadi seorang notaris kepausan
tahun 1540. Ia adalah salah seorang tokoh yang memengaruhi gerakan reformasi di Skotlandia.Ia
merupakan salah satu murid Calvin di Jenewa, sehingga pengaruh
teologi Calvinis sangat kental dalam dirinya. Menurut Knox,
kekristenan dan kemerdekaan nasional harus dapat ditemukan bersama, karena
keduanya merupakan suatu pergumulan yang dapat diselesaikan bersama.
F.
John Wycliff
John Wycliffe lahir
1324 adalah seorang pengajar di Universitas Oxford, Inggris, yang
dikenal sebagai filsuf, teolog, pengkhotbah, penterjemah dan tokoh reformasi
Kristen di Inggris.Ia dikenal melalui karyanya menerjemahkan Alkitab dari
bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1382, yang dikenal
sebagai "Alkitab Wycliffe". Karya inilah yang mempengaruhi
terjemahan-terjemahan Alkitab kemudian. Pada
tahun 1371 doktrin-doktrin Wycliffe mengenai kekayaan gereja dianggap
cocok bagi pemerintah sekuler saat itu, sebab gereja sangat kaya dan memiliki
kurang lebih sepertiga dari seluruh tanah di Inggris. Namun demikian, gereja
masih menuntut kebebasan pajak dari pemerintah.Doktrin-doktrin Wycliffe dipakai
untuk memaksa para rohaniawan yang segan membayar, sehingga dengan begitu
pemerintah dapat membiayai perang yang mahal melawan Prancis.
2.4 Sejarah
Munculnya Kerajaan Nasional
Nasionalisme tumbuh subur di daerah
eropa utara seperti Inggris, Perancis dan Jerman. Ini disebabkan karena
warganya dalam intervensi Paus dalam permasalahan internal Negara yang
bersangkutan. Dengan kata lain, mereka berhak untuk menentukan nasib dirinya
sendiri. Paus dianggap sebagai kekuatan asing yang eksploitatif dan harus
dilawan.
Adanya suatu reformasi Protestan yang
terjadi pada abad pertengahan memberikan suatu dampak yang sangat signifikan
terhadap bangsa-bangsa di Eropa. Dimana adanya reformasi ini berakar terhadap
suatu terbentuknya Kerajaan Nasional yang memilki arti bahwa negara-negara
tersbut sudah mampu untuk memerintahkan bangsanya sendiri.
Hubungan mengapa adanya suatu Kerajaan
Nasional dapat dipengaruhi oeh reformasi Protestan dapat dilihat dari dampak
yang ditimbulkan dari reformasi itu sendiri. Ini dapat dilihat dari
kemajuan-kemajuan yang telah dihasilkan yakni
mengubah wajah Eropa. Dengan memutuskan para raja beserta rakyatnya dari
kekuasaan Roma, maka Reformasi telah menyokong
tumbuhnya negara-negara kebangsaan modern. Dengan mencoba Renaisans yang dinilai terlalu
bebas, maka kebajikan dan moralitas agama dipulihkan kembali. Individualisme
yang diwariskan Renaisans pada Reformasi terus berkembang.
Kerajaan Nasional selain dipengaruhi
adanya reformasi Protestan juga dapat dipengaruhi dengan adanya zaman
pencerahan. Dimana ciri-ciri yang dapat terlihat dari zaman pencerahan ialah
telah memberikan sifat dan jiwanya
kepada pemikiran modern. Manusia modern telah menolak konsep teologi Abad
Pertengahan sebagai suatu wewenang yang
paling akhir. Orang Pencerahan menafsirkan alam semesta tidak lagi dipandang
sebagai suatu hal yang misteri, alam
dapat dipelajari dan dikaji berdasar
kemampuan akal. Abad Pencerahan atau Abad Pemikiran merupakan Abad Kepercayaan,
ilmu pengetahuan yang telah menggeser abad Iman yang telah terjadi selama Abad
Pertengahan.
Akhirnya dapat dijabarkan bahwa
terbentuknya Kerajaan Nasional pada mulanya didasarkan pada adanya kebebasan
dalam persamaan bahasa atau kebudayaan, baru kemudian atas kesadaran nasional.
kerajaan nasional pertama yang terbentuk serta mencapai kesatuan di Eropa Barat
yaitu. Spanyol, Portugal, Inggris, Perancis dan Belanda.
2.5 Kerajaan
nasional Spanyol, Portugal, Inggris, Belanda dan Perancis
2.5.1 Kerajaan
nasional Spanyol
Latar
belakang terbentuknya negara nasional Spanyol adalah sejalan dengan sentimen
terhadap kekuasaan Islam di Spanyol sejak tahun 711 (abad 8 ) sampai 1492 (
abad 15) yaitu dinasti Ummayah yang berpusat di Cordoba (disebut pula Kalifah
Barat) Konsolidasi Spanyol tercapai pada tahun 1469 setelah terjadi perkawinan
antara Ratu Isabella dari kerajaan Kristen Castilia dengan Raja Ferdinand dari
kerajaan Kristen Arragon. Pada tahun 1492 kota Islam yang terakhir yaitu
Granada berhasil direbut mereka. Kesatuan Spanyol pada waktu itu kurang utuh
bila dibandingkan Perancis dan Inggris karena ada konflik Ras, agama, bahasa
dan perasaan kebangsaan lokal.
Jauh
sebelumnya, Spanyol adalah satu kerajaan islam dengan nama Andalusia. Sampai
akhirnya, satu per satu kota-kota itu direbut oleh Spanyol, Cordoba, Sevilla
(pusatekonomi), Jerez (pusatmiliter), Pantai Mediterania dan Lembah Ebro. Wilayah
Spanyol dan Portugal berada dalam semenanjung yang dulu namanya, Iberia. Sejak
abad ke 5 M, daerah ini dikuasai oleh bangsa Vandals, maka wilayah ini,
terutarna bagian selaian disebut Vandalusia. Menjelang kedatangan Islam, daerah
ini dikuasai oleh bangsa Visigmh (atau disebut juga bangsa Gothia, atau bangsa
Got). Pada awal abad ke 8, menjelang runtuhnya Bani Umayyah, daerah ini sudah
dapat dikuasai oleh pemerintahan Islam.
Tercatat tiga pahlawan Islam yang terkenal berkaitan dengan penaklukan daerah
ini. yaitu Tarif ibn Nalik, Tarik bin Ziyad dan Musa ibn Nushair. Tarif ibnu
Malik dapat dikatakan sebagai perintis. Ia bersama pasukannya menyeberang selat
menuju semenanjung Andalusia, menaiki empat buah kapal yang disediakan Julian,
penguasa Cema. Dalam penyerbuannya Tarik memperoleh kemenangan dan kembali ke
Afrika utara membawa harta rampasan perang yang cukup banyak, peristiwa ini
terjadi pada tahun 91 H.
Pada tahun
711 M, Jabal ibnu Tariq, seorang komandan bani Umayah tiba di semenanjung
Iberia ( Spanyol-Portugal) melalui selat Gibraltar. (Nama ini berasal dari kata
Jabal Tarik dengan pengucapan lidah barat). Tarik terus memasuki Spanyol dan
dalam pertempuran di Bakkah, Raja Roderck, penguasa Spanyol dikalahkan.
Seterusnya, setelah mendapat dukungan dari penduduk setempat, Tarik menaklukan
kota-kota berikutnya, seperti Cordova, Granada dan Toledo (ibu kota kerajaan
Gothiasaatitu).
Sementara
Tarik telah memperoleh kemenangan, kemudian pada tahun 712 M, Musa bin Nushair
menyusul dengan pasukannya untuk merebut kota-kota lain. Pasukan Musa dapat
menaklukan kota-kota Medina, Sidonia, Karmonia, Seville, Merida, pasukan Musa
kemudian bergabung dengan Tarik di Toledo, yang kemudian mereka menuju keutara,
menaklukan wilayah Aragon, Castille, Galicia, Sarragosa, Barcelona dan Praus.
Pada waktu Tarik dan Musa memenangkan pertempuran-pertempuran dan menguasai
kota-kota di Andalusia, maka sejak itulah Spanyol mulai dikuasai oleh Islam
dibawah kekuasaan Bani Umayyah yang berpusat di Damaskus.
Pada waktu
itu sebagian besar daratan Eropa masih berada didalam kegelapan. Mereka masih
hidup terbelakang dan belum mengenal peradaban. Dari semenanjung ini lah
sedikit demi sedikit pasukan Umayah berhasil memperluas kekuasaan hingga
mencapai sebagian besar wilayah Pay Basque di pegunungan Pirenia-Perancis
hingga 200 tahun lamanya. Mereka bahkan hampir menguasai pedalaman Perancis
bila saja pada pertempuran di Poitier pada tahun 733 M tidak berhasil
dikalahkan pasukan Perancis dibawah raja Frank Charles Martel. Sementara itu
pada tahun 755 M dinasti Umayah di Syam (Damaskus) jatuh ke tangan dinasti
Abbasiyah yang beraliran Syiah. Abdul Rahman ad-Dakhil, penguasa terakhir
dinasti Umayyah berhasil lolos dari kejaran Abbasiyah dan menyelamatkan diri ke
Spanyol. Di negeri ini ia berhasil mempertahankan satu-satunya kekuasaan
dinasti Umayah yang tertinggal dan mendirikan kerajaan Andalusia yang lepas
dari kekuasaan pusat Abasiyah.
Dibawah
kekuasaan Abdul Rahman an-Nashir, yang berkuasa antara tahun 912-961, Andalusia
mencapai kejayaan pada segala bidang kehidupan. Kerajaan ini secara mutlak
menguasai seluruh semenanjung Iberia selama 275 tahun, yaitu hingga tahun 1030
M. Sayang setelah itu ia terpecah menjadi lebih dari 20 ‘ muluk thawaif’ atau
kerajaan-kerajaan kecil yang lemah dan menyebar diseluruh Iberia. Yang terkenal
diantaranya adalah kerajaan Seville ( 1056-1147) dan Granada ( 1237-1492)
sebelum akhirnya benar-benar lenyap setelah ditaklukkan kerajaan Kristen
dibawah raja Arragon, Ferdinand II. Kerajaan-kerajaan kecil Islam ini jatuh
disebabkan tidak adanya persatuan di dalam tubuh mereka. Jadi pihak Kristen
sebenarnya hanya memanfaatkan kelemahan tersebut. Orang Spanyol menamakan
peristiwa kemenangan mereka itu ‘Reconquista’ yang berarti Penaklukan Kembali.
Castilla dan
Aragon Keduanya adalah kerajaan yang dianggap bertanggung jawab atas hancurnya
Andalusia dan Granada. Namun yang menjadi catatan, kejatuhan terakhir kerajaan Islam
Granada pada 1492 M sebenarnya lebih disebabkan oleh raja terakhirnya, Abu
Abdullah Muhammad binAli, yang kurang memperhatikan salah satu ayat penting
dalam Al-Quran. Suatu ketika ia menggabungkan pasukannya kedalam pasukan raja
Ferdinand II untuk berperang melawan musuh. Namun setelah gabungan pasukan ini
menang, Ferdinand berbalik menyerang dan merebut kekuasaan sang raja. Seluruh
kekayaannya dirampas hingga ia terpaksa pergi meninggalkan istananya menuju
Afrika dan hidup terlunta-lunta dalam kemiskinan. Dibawah raja Ferdinand II dan
istrinya ratu Isabelle inilah kaum Muslimin dan Yahudi mengalami pengusiran
secara besar-besaran. Berbicara mengenai terbentuknya suatu kerajaan nasional
maka tidak akan terlepas dari pengaruh Isabella dan suaminya yang bernama
Ferdinand. Dimana pada saat itu Isabella merupakan Ratu di kerajaan Castile
yang ada di Spanyol. Isabella dilahirkan pada tahun 1451 di kota Madrigal di
wilayah kerajaan Castile (kini bagian dari Spanyol). Sebagai gadis remaja dia
peroleh pendidikan keagamaan yang ketat dan menjadi seorang Katolik yang taat.
Saudara tirinya, Henry IV, jadi Raja Castile dari tahun 1454 hingga matinya
tahun 1474. Pada saat itu tidak ada Kerajaan Spanyol. Daerah Spanyol sekarang
terbelah-belah jadi empat kerajaan: Castile yang terbesar, Aragon di bagian
sebelah utara Spanyol sekarang, Granada di sebelah selatan dan Navarre di
utara.
Pada ujung
tahun 1469-an, Isabella yang mungkin jadi pewaris mahkota Castile pewaris
terkaya di Eropa, menjadi incaran berbagai pangeran. Saudara tirinya Henry IV,
menginginkan dia menikah dengan raja Portugis. Tetapi, di tahun 1469, tatkala
usianya menginjak delapan belas tahun, dia abaikan keinginan itu dan menikah
dengan Ferdinand pewaris Kerajaan Aragon. Akibat ketidakpatuhan Isabella, Henry
menunjuk anak perempuannya, Yuana, menggantikannya. Tetapi ketika Henry
meninggal dunia di tahun 1474, Isabella menuntut mahkota Kerajaan Castile. Para
pendukung Yuana tidak bisa menyetujui ini hingga pecahlah perang saudara.
Menjelang bulan Februari 1479 pasukan Isabella memperoleh kemenangan. Raja John
II dan Aragon mati di tahun itu juga dan Ferdinand menaiki tahta kerajaan
Aragon. Sesudah itu Isabella dan Ferdinand memerintah sebagian besar Spanyol
secara bersama-sama.
Dalam teori,
kedua kerajaan Aragon dan Castile masih tetap terpisah, begitu juga
pemerintahannya. Tetapi dalam praktek Ferdinand dan Isabella mengambil
keputusan-keputusan bersama-sama dan berperan sebagai penguasa gabungan terbaik
di seluruh Spanyol. Selama dua puluh tahun pemerintahan gabungannya, politik
dasar mereka adalah membangun satu kesatuan kerajaan Spanyol yang diperintah
oleh satu lembaga kerajaan yang kuat. Salah satu proyek pertamanya adalah
penaklukan Granada, satu-satunya bagian dari semenanjung Iberia yang masih berada
di bawah kekuasaan orang Islam. Pertempuran bermula tahun 1481 dan berakhir
tahun 1492 dengan kemenangan mutlak di pihak Ferdinand dan Isabella. Dengan
penaklukan Granada, daerah Spanyol hampir sama luas dengan daerah Spanyol
sekarang ini. (Kerajaan kecil Navarre dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaannya
oleh Ferdinand tahun 1512 sesudah Isabella meninggal dunia).
Pada
saat-saat permulaan pemerintahannya, Ferdinand dan Isabella mendirikan
pengadilan Spanyol. Pengadilan merupakan forum pengadilan gerejani, gabungan
dari hakim, juri, jaksa penuntut dan penyelidik kepolisian. Pengadilan ini
terkenai baik karena kekejaman hukumnya maupun ketidakadilan cara-caranya. Para
tertuduh kecil harapan dan tak punya kemungkinan samasekali bela diri terhadap
tuduhan yang ditimpakan kepadanya. Mereka tidak diberitahu samasekali bunyi
tuduhan, bahkan nama-nama si penuduh. Tertuduh yang menyangkal tuduhan dipermak
habis hingga mengaku. Menurut perkiraan lama, sedikitnya 2000 orang dibakar
selama dua puluh tahun pertama berlakunya pengadilan Spanyol itu, tetapi
kabar-kabar berikutnya jumlah itu makin menyusut.Pengadilan Spanyol itu
dipimpin oleh seorang pendeta amat fanatik, Tomas de Torquemada, pendeta yang
biasa menerima pengakuan pribadi Isabella. Kendati pengadilan sudah diberi
limpahan wewenang oleh Paus, dalam praktek dia di bawah pengawasan raja-raja
Spanyol.
Pengadilan
inkuisisi ini sebagian dimaksud agar terjamin keseragaman agama, dan sebagian
dimaksud untuk menggencet mereka yang beroposisi terhadap Raja. Di Inggris,
pangeran-pangeran feodal selalu bisa memelihara kekuatan cukup untuk mengawasi
kekuasaan Raja. Pangeran feodal Spanyol suatu saat juga punya wibawa, tetapi
raja-raja Spanyol mampu menggunakan pengadilan inkuisisi sebagai senjata
menghadapi pangeran feodal yang tidak mau dicucuk hidung begitu saja, karena
itu mereka juga mampu membangun suatu monarki yang terpusat dan absolut. Mereka
juga gunakan itu untuk punya pengawasan lebih besar terhadap pendeta-pendeta
Spanyol.
Tetapi,
tujuan utama pengadilan inkuisisi adalah mereka yang dicurigai murtad dari
agama, khusus Yahudi dan Islam yang sedikitnya sudah berpindah jadi Katolik
tetapi secara diam-diam masih tetap menjalankan ibadah agama asalnya. Pada
mulanya, pengadilan inkuisi tidaklah ditujukan melawan Yahudi. Tetapi, di tahun
1492, atas tekanan si fanatik Torquemada, Ferdinand dan Isabella menandatangani
sebuah dekrit yang isinya memerintahkan semua Yahudi Spanyol masuk Kristen atau
angkat kaki tinggaikan Spanyol dalam tempo empat bulan, tanpa boleh membawa barang
miliknya walau sepotong. Buat Yahudi Spanyol yang berjumlah sekitar 200.000
orang, perintah pengusiran ini betul-betul suatu malapetaka dan banyak yang
menghembuskan napas terakhir sebelum kaki sempat menyentuh pelabuhan yang aman.
Untuk Spanyol, pengusiran ini berarti kehilangan sejumlah besar penduduk yang
paling rajin dan paling berkeahlian dalam dunia dagang dan pertukangan sehingga
menyebabkan kemunduran ekonomi yang hebat.
Ketika
Granada menyerah, perjanjian damainya menyediakan peluang buat kaum Muslimin
yang ada di Spanyol diijinkan boleh tetap beribadah menurut ajaran agamanya.
Kenyataannya, pemerintahan Spanyol tak lama sesudahnya mengkhianati perjanjian
itu. Oleh sebab itu kaum Muslimin berontak, tetapi dapat ditumpas. Tahun 1502
semua kaum Muslimin yang berada di Spanyol dipaksa masuk Kristen atau dihalau
pergi, pilihan serupa yang pernah disodorkan kepada kaum Yahudi sepuluh tahun
sebelumnya.
Meskipun
Isabella seorang pemeluk Katolik yang taat, dia tak pernah mengijinkan
keortodoksannya mengganggu nasionalisme Spanyolnya. Dia dan Ferdinand berjuang
keras dan berhasil meyakinkan bahwa gereja Katolik di Spanyol diawasi oleh
Kerajaan Spanyol, bukan oleh Paus. Ini merupakan salah satu sebab mengapa kaum
pembaharu Protestan di abad ke-16 tak berkesempatan peroleh kemenangan di
Spanyol.Yang teramat menonjol di masa pemerintahan Isabella, tentu saja,
penemuan dunia baru oleh Christopher Colombus yang juga terjadi di tahun 1492
yang menentukan dan penting. Ekspedisi Colombus disponsori oleh kerajaan
Castile.
Isabella
meninggal dunia tahun 1504. Selama hidupnya dia melahirkan seorang putra dan
empat putri. Putranya Yuan meninggal tahun 1497. Puterinya yang paling terkenal
adalah Yuana. Ferdinand dan Isabella mengatur agar Yuana kawin dengan Philip I
(si tampan) putera Kaisar Hapsburg Austria dan pula ahliwaris Kerajaan
Burgundy. Hasil dari perkawinan dinasti yang luar biasa ini, cucu Isabella,
Raja Charles V, mewariskan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Eropa.
Dia juga terpilih jadi Kaisar Roma yang suci dan merupakan orang terkaya dan
Raja terkuat di Eropa pada masanya.
Daerah yang
berada di bawah kekuasaanya termasuk Spanyol, Jerman, Negeri Belanda, Belgia,
Austria, Swiss, sebagian besar Italia, sebagian Perancis, Cekoslowakia,
Polandia, Honggaria, dan Yugoslavia dengan tambahan sebagian besar daerah
Amerika Selatan.Baik Charles V maupun puteranya Philip II penganut Katolik yang
taat, yang sepanjang masa pemerintahannya menggunakan kekayaan Amerika Selatan
untuk membiayai perang melawan negara-negara Eropa Utara yang menganut
Protestan. Jadi, perkawinan antar dinasti yang diatur Ferdinand dan Isabella
mempengaruhi jalannya sejarah Eropa selama hampir seabad sesudah kematian
mereka.
Dengan
demikian kami menyimpulkan berkat kerja besar dan pengaruh Ferdinand dan
Isabella serta kerjasama keduanya, mereka berhasil membangun kerajaan Spanyol
yang bersatu, yang daerah perbatasannya cukup mantap, dan tidak mengalami
perubahan selama lima abad. Mereka berhasil membentuk pemerintahan monarki yang
terpadu, tersentralisir, dan mutlak di Spanyol. Pemberontakan kaum Muslimin dan
Yahudi punya konsekuensi penting baik bagi mereka yang terhalau maupun bagi
Spanyol sendiri. Ketaatan mereka yang teguh kepada agama dan pendirian
pengadilan inkuisisi punya akibat mendalam terhadap keseluruhan masa depan
Spanyol.
Pokok
terakhir dari hasil-hasil yang telah dicapai membuka permasalahan. Secara
sederhana seseorang bisa bilang, pengadilan inkuisisi menjadi hambatan bagi
perkembangan intelektual Spanyol. Di abad-abad sesudah tahun 1492, umumnya
Eropa Barat telah mencapai tingkat kemeriahan kemajuan ilmu pengetahuan dan
ketinggian intelektual. Hal ini tidak terjadi di Spanyol. Di suatu masyarakat
yang tiap orang yang punya beda pendapat selalu dicekam bahaya penangkapan oleh
pengadilan inkuisisi, tidak aneh jika masyarakat macam itu kehilangan pribadi
samasekali. Negeri-negeri Eropa lainnya memperbolehkan adanya beda pendapat. Di
Spanyol, inkuisisi cuma membolehkan Katolik yang dua puluh empat karat.
Menjelang
tahun 1700, Spanyol merupakan negeri yang jompo secara intelektual dibanding
lain-lain negeri Eropa Barat. Memang, meskipun hampir lima abad sesudah
Ferdinand dan Isabella untuk pertama kali mendirikan pengadilan inkuisisi, dan
kendati lebih dari 140 tahun sejak inkuisisi akhirnya dihapus, Spanyol masih
tetap belum pulih dari akibat-akibatnya.
2.5.2
Kerajaan Nasional Portugal
Cikal bakal Kerajaan nasional Portugal
merupakan Subvasal dari kerajaan Leon Castillia (Spanyol). Pada abad 14 yaitu
tahun 1385 tentara Portugal dibantu Inggris memerangi Kerajaan Castilia dan
kalah sehingga ambisi untuk menaklukan Portugis terhenti. Kerajaan nasional
Portugal adalah sebuah negara di Eropa bagian barat daya, berbatasan dengan
Spanyol di sebelah utara dan timur. Di sebelah barat berbatasan dengan Samudra
Atlantik.
Selain itu, Portugal juga mempunyai
daerah di Madeira, Azores dan Kepulauan Selvagens. Nama lama atau latin dari
negara ini adalah Lusitania. Kata "Portugis" sering dipakai untuk
menyebutkan penduduk atau orang yang berasal dari Portugal. Kata ini juga
sebutan untuk bahasa yang dipakai oleh bangsa ini. Negara-negara berbahasa
Portugis sering disebut sebagai negara-negara Lusophone.
Kerajaan
Portugal adalah sebuah monarki yang berpusat di Lisboa,Semenanjung
Iberia, yang berdiri sejak 1139 hingga 1910, dan selanjutnya digantikan oleh
Republik Portugal Pertama. Kerajaan ini memiliki daerah yang luas yang disebut
Imperium Portugal sejak 1415. koloni-koloninya meliputi Brasil, berbagai
wilayah di Afrika, dan pernah menguasai sebagian Nusantara, Malaya dan India.
Raja-rajanya yang terkenal adalah Afonso I (dari Wangsa Burgundi, memerintah
1139-1185) dan Manuel II (Wangsa Braganza, 1908-1910).
Kerajaan Nasional Portugal yang
dulunya menjadi satu dengan Spanyol adalah negara kecil di bagian paling barat
Eropa dengan komunitas agama Katolik. Oleh sebab itu pada zamannya, Paus Agung
menyatakan Portugal memisahkan diri dari Spanyol untuk memperkokoh kekuatan
agama Katolik dengan memperluas komunitas Katolik di setiap bagian negara di
Eropa. Lahirnya peradaban Portugis bermula dari ibukota lama sejak abad X,
yaitu kota Guimaraes di wilayah Minho yang pemandangannya asri sepanjang sungai
Selho. Pemerintahannya diawali oleh Raja D. Henrique pada tahun 1112,
diteruskan oleh anaknya Afonso Henrique yang kemudian menyatakan pada 24 Juni
1128 adalah hari kebangkitan bangsa Portugis.
2.5.3
Kerajaaan Nasional Inggris
Kerajaan Inggris (setelah tahun 1284 juga termasuk Wales)
adalah sebuah negara berdaulat sampai tanggal 1 Mei 1707. Kemudian
Undang-Undang Kesatuan yang menyatakan bahwa Kerajaan Inggris dan Kerajaan
Skotlandia disatukan secara politik untuk membentuk Kerajaan Britania Raya
disahkan pada tahun 1707. Pada tahun 1801, Britania Raya bersatu dengan
Kerajaan Irlandia dengan disahkannya Undang-Undang Kesatuan 1800 dan kemudian
namanya berganti menjadi Kerajaan Bersatu Britania Raya dan Irlandia. Berikut
ini akan dijelaskan mengenai terbentuknya bangsa Inggris (zaman kelt dan
zamananglo-saxon dan anglo Perancis).
A. Zaman
Anglo Saxona.
a. Suku-Suku Iberia dan Suku-Suku Kelt
Di kepulauan Britanian itu orang-orang
Iberia melalui berbagai tingkat peradaban dari zaman batu sampai ke zaman
logam. Dari abad ke-7 SM sampai abad ke-3 SM, suku-suku bangsa Kelt yang
mula-mula mendiami Jerman barat-laut dan negeri Belanda bergerak melintasi
benua Eropake segala penjuru. Sebagian dari suku ini menyeberangi lautan dan
menyerbukepulauan Britania secara bergelombang. Hubungan antara orang-orang
Kelt dan orang-orang Iberia di Kepulauan Britania mula-mula aialah hubungan
antara yang menaklukan dan yang ditaklukan, tetapi keduanya lama kelamaan
bercampur. Daerah-daerah Inggris selatan dan tenggara merupakan tempat-tempat
dimana orang-orang Kelt mencapai tingkat kehidupan ekonomi dan kebudayaan yang
tertinggi.
b. Inggris di bawah
kekuasaan Roma
Tahun 55 dan 54 SM balatentara Roma
menyerbu Inggris. Tetapi penyerbuanitu belum berakibat dikuasainya Inggris oleh
Roma, karena bala tentara itu segeraditarik kembali. Kemudian tahun 43 M Roma
melakukan penyerbuan lagi danmengalami kemenangan.
c. Penyebaran Agama Kristen di Inggris
Agama
Kristen masuk di kalangan orang-orang Anglo-Saxon menjelang akhir abad ke-6
dari dua jurusan, yaitu dari selatan dan utara. Penyebaran agama Kristendari
selatan mulai dengan mendaratnya Agustinus
dari Roma dengan 40 pengikutnya di daerah Kent. Orang-orang Wales
membantu mengkristenkan orang-orang Aglo-Saxon melalui seorang rohaniawan yang
bernama Patricius.
d. Serbuan Orang-orang Skandinavia
Menjelang
akhir abad ke-8, Inggris mendapat serangan-serangan pertama dariorang-orang
Viking. Pada pertengahan abad ke-9, Inggris bagian utara dan timur hampir
seluruhnya sudah dikuasai oleh orang-orang Skandinavia. Mereka kemudianmulai
mengarahkan serangan-serangan mereka ke Wessex.
e. Feodalisme Tumbuh di Inggris
Sistem
ini mulai tampak bentuknya kira-kira dalam abad ke-10 dan mencapai kejayaanya
pada dua abad berikutnya. Feodalisme bukanlah hasil perancanaan, melainkan feodalisme yakni
tumbuh dari keadaan setempat. Inggris diperintah oleh seorang raja dan
penyatuan seluruh Inggris terlaksana dibawah raja Edgar (959-975). Kata feodalisme sesungguhnya berdasarkan kata
feudum atau tanah titipan. Dan memang sebagian besar negara waktu itu diatur
menurut azas feodalisme. Pun dalam tata mayarakat, prinsip yang menjadi lazim
ialah bahwa setiap orang memiliki
seorang tuan (lord)´yang wajib ia layani
dan dari siapa ia memperoleh perlindungan, peradilan, dan jaminan penghidupan.
Hubungan pribadi antara bawahan dan
atasan merupakan tali pengikat yang mempersatukan seluruh masyarakat, bahkan
seluruh negara.
B. Zaman
Anglo –Perancisa
a. Pemerintahan Edward The Confessor dan Penaklukan oleh
Normadia
Di atas telah dikemukaan bahwa para pengganti Canute tidak mampu
mempertahankan konfederasi Anglo-Denmark, sehingga Inggris berdiri sendiri
hubungan Inggris dengan Denmark semakin jauh karena raja baru itu telah
berorientasi kepada Perancis. Maka tatkala Edward menduduki tahta Inggris, ia
mengangkat orang-orang Normandia dalam kedudukan-kedudukan tinggi baik di
lingkungan Gereja maupun dalam pemerintahan. Pada tahun1066 raja yang saleh dan
lemah itu meninggal tanpa mempunyai keturunan yang dipilih oleh Witan sebagai
penggantinya ialah Harold, putra Godwin, Earl of Wessex. Namun pengangkatan
Harold ini ditentangoleh Harald Hadrada, raja Norwegia dan William, Duke of Normandy, karena merasa berhak
juga atas tahta Inggris.
Menjelang akhir bulan September 1066
pasukan Norwegia mendarat dibagian utara Inggris, namun dapat dikalahkan oleh
Harold. Beberapa minggu sesudah Harold berhasilmengalahkan pasukan-pasukan
Norwegia, ia sendiri dikalahkan dan terbunuh oleh pasukan Willian dari
Normandia di suatu tempat di Inggris selatan yang bernamaHastings.
Williammenjadi Raja Inggris setelah kemenangannya di Hastings. Dengan
pemerintahannya, William telah mencergah timbulnya anarki yang merupakan bahaya
yang selalu mengancam dalam sistem feodal, dan memulai pertumbuhan birokrasi
kerajaan yang efektif. William tidak saja mengadakan perubahan-perubahan dalam
sistem pemerintahan, tetapi juga di bidang keagamaan, salah satunya yaitu
pemisahan antara peradilan Gereja dan peradilan sekuler. \
b. Raja-Raja Anglo-Norman
Sesudah William I yang meninggal tahun1087 telah mewariskan suatu monarki
serta suatu kerajaan yang cukup mantap berkat perpaduan tiga cara pengendalian,
ialah melalui sistem feodal, administrasi pusat, dan pemerintahan daerah. Garis
Normandia dilanjutkan oleh William Rufus atau William II (1087-1100), putera
tertua William I. Di bawah pemerintahan William II terjadi sengketa antara raja
dan Gereja. Penyebab pokok berkisar sekitar kekuasaan dan kekayaan duniawai
yang dimiliki gereja dan cenderung menimbulkan rasa cemas dan iri di kalangan
sekuler, dan konflik tersebut masih berlanjut tatkala William Rufus meninggal
dan digantika oleh adiknya, yaitu Henry (1100-1135). Pada masa pemerintahan
Henry suasana semakin membaik. Namun setelah kematian Henry I dan digantikan
oleh Stephen of Bloissuasana menjadi semakin memburuk dan terjadi anarki dan
kesewenang-wenangandan berlangsung terus sampai meninggalnya Stephen tahun1154
yang kemudiandigantikan oleh Henry II.
c. Pemerintahan Henry II (154-1189)
Pada waktu Henry II dinobatkan sebagai raja, ia sebagai Count of Anjou telahmenguasai
daerah-daerah luas di Perancis yang meliputi lebih dari separuh negeri itu.
Henry II memiliki sifat-sifat kepemimpinan dan dinamika yang memadai. Syarat
lainyang harus dipenuhi untuk dapat menguasai daerah-daerah seluas itu ialah
suatu aparat permanen yang benar-benar efektif.Melalui hukum, Henry II telah
berhasil memperkuat pemerintahan kerajaan, suatu hal yang sangat diinginkan
golongan-golongan menengah dan bawahan waktu itu. Henry II berhasil mencegah
anarki dalam kerajaannya, namun sebaliknya ia gagal mencegah dalam keluarganya
sendiri. Kedua puteranya memberontak terhadapnya pada tahun1188 dengan bantuan
raja Perancis.
d. Perang Salib
Perang Salib dimulai tahun1096 dan secara terputus-putus berlangsung selama
dua abad. Perang ini mula-mula bertujuan utama merebut kembali Jerusalem dari
tangan pemeluk-pemeluk agama Islam yang dikabarkan telah memberikan perlakuan
kurang baik kepada peziarah-peziarah Kristen ke Tanah Suci itu. Diantara
expedisi-expedisi yang terpenting yaitu: Perang Salib I (1096-1099), Perang
Salib II (1147-1150), dan Perang Salib III(1189-1192). Perang Salib tidak berhasil mencapai tujuan utamanya yaitu
menguasai kembali Jerusalem.
e. Pemerintahan Richard I (1189-1199)
Richard lebih terkenal sebagai pahlawan Perang Salib III. Hak-hak khususnya
sebagai raja ia gadaikan kepada adiknya John sudah terkenal sebagai orang yang
tidak bijaksana dan sukar dipercaya. Selama masa pemerintahan Richard,
sesungguhnya pimpinan pemerintahan dipegang oleh para justiciar, yaitu hakim agung dan pejabat kerajaan tertinggi, Hubert
Walter yang berhasil dalam menjaga ketertiban dan keamanan. Pemerintahan yang
dijalankan Hubert Walter hanya 4 tahun dan berakhir ketika Richard I yang
diwakilinya terbunuh diPerancis. Pemerintahan selanjutnya dipegang oleh John.
f. Magna Charta
Raja John (1199-1216) sering dianggap sebagai raja terburuk yang pernah
memerintah di Inggris. Magna Charta (Piagam Agung) ditandangani oleh John untuk
memenuhi tuntutan para bangsawan pada pertengahan tahun 1215. Magna Charta atau
The Great Charter berisi
masalah-masalah khusus, dan yang terpenting ialah bahwa tidak boleh lagi dipungut pajak-pajak tambahan
tanpa persetujuan Great Council (Majelis Agung), dan menangkap orang bebas (freeman) adalah tindakan melawan hukum
kecuali jika sesuai dengan penilaian sah para atasan orang tersebut atau sesuai
dengan hukum yang berlaku. Raja John meninggal tahun 1216 dan tahta kerajaan diserahkan kepada
puteranya yang berumur 9 tahun yang memerintah sebagai Henry III.
g. Pemerintahan Henry III (1216-1272)
Henry III dinobatkan menjadi raja pada saat berusia 9 tahun. Henry adalah
pemimpin yang cenderung lemah dan kurang negarawan. Kelemahan Henry dimanfaatkan
oleh beberapa pihak terutama pimpinan gereja dari Roma dan bebebrapa kerabat
dari Perancis. Ketidaksenangan masyarakat terhadap pemerintahan Henrry juga
dipicu dengan leluasanaya pemerintah pada saat itu memberikan jabatan-jabatan
penting dalam pemerintahan kepada teman dan kerabat dekatnya. Hal itu kemudian
mendorong adanya pemberontakan dari masyarakat. Kemudian mereka menuntut Henry
menyerahkan pemerintahanya kepada 15 dewan yang di sebut Barons. Akhirnya
terjadi peperangan yang kemudian mengakhiri pemerintahan Henry III.
h. Pemerintahan Edward I dan Lahirnya Parlemen Inggiris
Dibawah pemerintahan Edward I badan ini kemudian dikenal dengan
sebutan parliement (parlement) yang
kemudian semakin nyata bentuk dan fungsinya, raja Edward mengambil pelajaran
dari pemerintahan ayahnya bahwa pemerintahan kerajaan akan berjalan lancar
apabila raja dan penerintahanya berhubungan erat dengan rakyatnya.
i.
Edward
II dan Edward III
Edward II adalah pemimpin yang mempunyai tipikal lemah dan mudah
dipengaruhi oleh para penasehat-penasehat ambisius. Namun konflik- konflik tidak mempengaruhi jalannya keadaan
masyarakat, hal itu merupakan suatu
bukti kemantapan lembaga-lembaga pemerintah yang berangsur-angsur tumbuh. Pada
pemerintahan Edward III , ia berhasil memulihkan kewibawaan seorang raja.
Pertama ia melakukan penyempurnaan dalam aparatur pemerintah dengan diangkatnay
justices of the peace di setiap county yang bertugas membatu pemerintah dalam
melaksanakan permasalahan di masing-masing daerah. Dalam pemerintahan Edward
III lebih terbuka dengan bangsa asing, sehingga hal itu mempermudah pihak asing
memberikan bantuanya dalam berperang. Skotlandia akhirnya dapat ditaklukan pada
tahun 1333. Namun kemudian setelah 8 tahun melepaskan diri lagi.
j.
Perang
Seratus Tahun
Perang seratus Tahun adalah perang antara monarki Inggris dan Perancis.
Salah satu penyebab perselisihan ini adalah bahwa monarki Inggris masih
menguasai daerah selatan Perancis yaitu Gascony. Di bidang ekonomi terdapat
persaingan dalam masalah angkatan laut sehingga sering terjadi bajak membajak.
Selain itu peperangan dipicu dengan kenyataan bahwa pada zaman Pertengahan
Inggis merupakan negara eropa yang terkuat walaupun relatif kecil. Hal itu
dikarenakan pemerintahan serta lembaganya yang berhasil menjaga keamanan dan
ketertiban dalam negeri.
Di sisi lai Perancis mempunyai daya tarik yang besar bagi orang-orang
Inggris karena negara itu lebih luas, besar, beradap dan kaya. Namun masih
lemah karena tidak mempunyai pemerintahan yang baik. Peperangan ini berlasung
lama yang kemudian menumbuhkan rasa nasionalisme dalam diri ke dua negara.
Dalam perang tersebut pasukan Perancis terdiri dari beberapa kalangan
bangsawan dan para vasalnya sesuai dengan kebiasaan bangsa feodal. Sementara
itu pasukan Inggris terdiri dari prajurit-prajurit wajib militer dari para
sukarelawan dan beberapa yang dibayar oleh para bangsawan yang mempunyai ambisi
dalam perang tersebut.
Dalam perang tersebut kemenangan berhasil diraih oleh Perancis yang
semangat nasionalismenya mulaimeluap-luap. Dalam bidang politik, Inggris
menjadi negara yang tidak lagi mudah terlibat dengan permasalahan-permasalahan
di dataran eropa. Dengan kehilangan daerah-daerah di Perancis maka pemerintah
dapat lebih berkonsentrasi terhadap permasalahan- permasalahan dalam negeri.
C. Reformasi
keagamaan ( zaman Tudor )
a. Henry VII dan konsolidasi Negara Nasional
Dalam menghadapi permasalahan dan pemulihan keamanan Henry VII bertindak
bijaksana dan mantap dengan tujuan yang ingin dicapainya. Henry tidak mempunyai
birokrasi yang dibayar. Untuk melaksanakan tugasnya ia menggunakan
lembaga-lembaga yang sudah ada. Di zaman Dinasti tudor sebagian kekayaan
berasal dari golongan menengah yang melakukan produksi misalnya Produksi Wol
yang cenderung tidak terpengaruh dengan adanya permasalahan-permasalahan
keagamaan maupun permasalahan pemerintahan. selain itu pada masa pemerintahan
Henry VII ini, kebijaksanaanya berhasil membawa kemantapan Nasionalisme dan
meningkatkan kemakmuran masyarakat Inggris, Ia tidak menghendaki adanya peperangan
yang hanya akan menghambur-hamburkan harta dan jiwa masyarakat Inggris.
b. Reformasi dan Permasalahan Keagamaan
Reformasi negara Inggris pada tahun 1509-1547 terjadi pada masa raja Henry
VIII, yang di dampingi oleh penasehatnya Thomas Wolsey. Reformasi dalam hal ini
dilatarbelakangi oleh rakyat Inggris yang
sudah tidak tahan lagi dengan doktrin-doktrin keagamaan yang dibuat oleh
Gereja katolik Roma. Gerakan itu lebih cenderung mengarah pada ajaran
Protestan. Dan gerakan tersebut disambut baik oleh rakyat Inggris. Menjelang
akhir abad ke15 terdapat peningkatan dalam bidan ilmu pengetahuan, akibat dari
membaiknya keamanan dan peningkatan sebagai usaha Henry VIII dan masuknya pahan
Renaissance.
Selain adanya revolusi keagamaan tersebut masih terdapat unsur- unsur
lainnya yang tidak kalah pentingnya yaitu Anti- Klerisme dan Nasionalisme.
Sebagai akibat dari kelemahan Rokhaniawan sendiri, gereja telah kehilangan
pemimpin intelektuil dan di bidang moril.
Selain itu juga adanya gerakan Protestanisme dari jerman yang berpangaruh
terhadap reaksi- reaksi dari masyarakat, ada yang bergabung dalam gerakan
tersebut ada pula yang beralih pada Agama Ortodox. Pada waktu itu Henry VIII
tidak mempunyai keturunan laki-laki, dan paus memberikan pengesahan kepadanya
Untuk menikahi janda kakaknya ChaterinAragon padahal ia ingin menikahi Ana
boyle sebagai keturunan Spanyol. Semenjak peristiwa itu Henry VIII menyadari
bahwa selama ini Inggris mengalami ketimpangan kedaulatan. Sebagai negara yang
berdaulat seharusnya Inggris harus dapat menentukan sendiri segala urusan yang
terjadi di dalam negri tanpa campur tangan dari pihak lain.
Ketidakjelasan dalam permasalahan Keagamaan masih dirasakan sampai Henry
VIII meninggal. Inilah salah satu pondasi yang diletakan oleh Henry VIII bagi
Inggris di zaman modern. Kepribadian Henry yang luar biasa berhasil meletakan
dasar-dasar utama bagi pertumbuhan negaranya. Dengan cara pemulihan ketertiban
umum serta kewibawaan pemerintahannya, eliminasi kekuatan para bangsawan agung
merupakan saingan bagi pemerintah nasional. Pemerintahan Monarki melalui dewan
raja dan perlemen berwenang dalam semua segi kehidupan bangsa (Omnicompetent), pengelolaan Ekonomi,
pembentukan angkatan laut kerajaan.
Setelah Henry VIII digantikan anaknya yaitu Edward VI permasalahan agama
ditangani dengan lebih toleran, kebebasan rakyat untuk memilih agama katolik
atau protestan sangat dihargai. Pada pemerintahan Marry permasalahan agama yang
bertahun-tahuntelah mengalami perbaikan akhirnya kembali pada kondisi lama
yaitu pemaksaan keyakinan untuk menaati doktrin -doktrin gereja Katolik Roma.
Mary ingin menghilangkan revolusi keagamaan dan kebanggaan Nasional rakyat
Inggris yang telah susah payah dicapai. Dia juga membangun hubungan baik dengan
Spanyol dengan cara menikah dengan Raja philip. Namun pernikahan tersebut
justru membawa kerugian bagi Inggris karena Spanyol tidak mau tersaingi oleh
Inggris dalam perdagangan sehingga terkadang Philip menggunakan cara-carayang
licik untuk mengelabuhi perdagangan Inggris.
c. Penyelesaian Permasalahan Agama ( Elizabeth1558-1603)
Penyelesaian permasalahan agama merupakan kebijaksanaan pada masa
pemerintahan Elizabet 1. Dalam usahanya dia bersama parlemen membuat
undang-undang untuk meniadakan gereja katolik Roma dan meniadakan kekuasaan
paus. Dan dibuatnya “book of common prayer” satu-satunya buku
kebaktian yang sah dan membentuk gereja Nasional yaitu gereja Anglikan
denganmonarki Inggris sebagai pimpinan tertinggi. Disamping itu juga timbul
golongan separatis dari kaum Protestan radikal yang menolak adanya gereka
nasional. Namun secara umum usaha pemecahan yang dilakukan oleh ratu Elizabeth
1 merupakan kebijakan yang tepat, terbukti gereja Anglikan masih bertahan
sampai saat ini. Disamping penyelesaian permasalahan agama Elizabet juga memprakarsai
kebijakan mengenai perdamaian dengan Skotlandia, Pengukuhan negara nasional,
memperluas Ekspansi perdagangan internasional, kejayaan armada laut diatas
Spanyol.
Di bawah pemerintahan raja-raja Tudor tumbuh kesadaran dan kebangsaan
nasional yang kuat bersamaan dengan semakin mantapnya keadaan di dalam negeri
dan semakin menanjaknya martabat negara dalam percaturan politik di Eropa. Pada
masa James 1(1603-1625) terdapat pertegangan antara kaum High Church (katolik)
dengan kaum Puritan (orang protestan extrim). Situasi ini diwariskan kepada
pemerintahan Charles 1 (1625-1649). Konflik ini mendorong perang dengan
Skotlandia. Perpecahan antara kelompok Puritan (parlemen) dengan Anglikan
semakin memanas ketika ada pembunuhan besar-besaran dan terjadilah perang
saudara.
Setelah kematian Charles, Inggris berubah menjadi negara republik.
Cara-cara radikal ke arah perubahan menemui jalan buntu, Inggris kembali ke
cara-cara yang tidak meninggalkan lembaga-lembaga tradisionil. Charles II
melaksanakan pemerintahan dengan raja absolut dan agama khatoliknya. Dia
mencoba meniru model Perancis, dan kerjasama rahasia dengan Perancis pun
dilakukan. Sementara itu Charles bersekutu dengan Belanda untuk melawan
Perancis dan Katolisisme. Persekutuan ini dikarenakan Inggris percaya bahwa di
bawah monarki Protestanlah kelangsungan hidup sistem parlementer dan Gereja
Anglikan dapat dijamin.
Charles II diganti James II (1685-1688) yang beragama Katolik. Dalam
pergantian ini James mendapat dukungan partai Tory dengan catatan James akan
memenuhi janjinya untuk memisahkan urusan agama dengan urusan negara. Namun
James menginginkan untuk
mengembalikan Inggris ke
pengakuan Gereja Katolik Roma. Orang-orang Katolik diangkat menjadi pejabat
negara, gereja, universitas, bahkan gereja.
2.5.4
Kerajaan Nasional Perancis
Kerajaan Nasional Perancis dirintis sejak Lous IX dari
dinasti Capet abad 13 yang berhasil memperluas Royal Domein meliputi separuh
dari wilayah Perancis. Pada masa raja Philippe auguste dan Louis VIII mereka membawa Perancis menjadi kerajaan
akbar di kawasan barat,dan selama pemerintahanya ada masalah yaitu pertikaian dengan raja
Henri Iiplagentiat, vasalnya yang kuat yang sekaligus adalah raja Inggris.
Perang 100 tahun melawan Inggris yang telah disinggung di atas telah
menumbuhkan sentimen nasional di Perancis. Kematian seorang pahlawan wanita
Perancis bernama Joan d’Aarc ( Jeanne d’Arc) pada tahun 1431 telah menjadi
faktor pemersatu.
Masa Saint Louis,ia memerintah di masa
kejayaan dari sebuah bentuk pemerintahan monarki feodal,dan raja perancis tampil
sebagai juru damai beragamakristen. Raja Philiipe III dan Felife IV merupakan
pribadi yang sulit diduga dan dikenal karena ia menghukumanggota ordo temple dan menyalahgunakan
kekuasaanaya di bidang moneter.
2.5.5
Kerajaan Nasional Belanda
Pada
abad pertengahan,Daerah yang sekarang ini disebut
Belanda terdiri dari sekelompok daerah pemerintahan para hertog yang otonom
(Geire, Brabant) dan wilayah yang diperintah oleh para graf (Holland dan
Zeeland) serta daerah keuskupan Ultrech. Di bawah pemerintahan Karel V (1500 –
1558) daerah-daerah itu dipersatukan dengan Belgia dan Luksemburg dan disebut
“Tanah-tanah Rendah”, yang waktu itu merupakan bagian dari Kerajaan besar
Bourgondia Habsburg (= Spanyol).
Negara
Belanda Merdeka pertama kali didirikan pada tahun 1568, ketika beberapa daerah Belanda Utara memberontak kepada Phillips II, Raja
Spanyol (yakni tuan tanah Bourgondia Habsburg). Perjuangan kemerdekaan ini
dipimpin oleh Pangeran Willem Van
Orange (1533-1584) yang disebut juga Bapak Tanah Air. Itulah permulaan
Perang Kemerdekaan 80 tahun.
Berbicara Belanda maka disini tidak akan
terlepas dari pengaruh Spanyol yang pada saat itu menguasai hampir seluruh
daratan Belanda sekarang. Belanda pada wakut itu meliputi Belanda selatan
(Belgia) dan Belanda Utara (negeri Belanda sekarang). Kota-kota merdeka (city
states) merupakan unit-unit politik yang independen meliputi 17 propinsi antara
lain Antworpen, Brussel, Rotterdam, Utrech dan seterusnya. Pada masa
pemerintahan Phillip II (1556-1598) menggantikan ayahnya yaitu X Habsburg, Spanyol mengalami kejayaan dan
wilayahnya termasuk Belanda dan Austria.
Akibat adanya pengaruh yang ditimbulkan
oleh Spanyol maka Ia menganggap Belanda dijaikan sebagai satelit Spanyol dan
harus dimanfaatkan untuk kepentingan Spanyol. Maka pada tahun 1567 timbul
pemberontakan terhadap kekuasaan Spanyol. Hal ini diakibatkan karena perbedaan
agama yang jika orang-orang Belanda sebagian besar merupakan pemeluk agama
Protestan sedangkan di Spanyol sendiri didominasi oleh agama Kristen.
Pada tahun 1580 Spanyol menutup pelabuhan
Lisabon bagi pedagang Belanda upaya ini untuk mematikan perekonomian terhadap
bangsa Belanda. Akhirnya Tahun 1581
Belanda Utara memproklamirkan diri sebagai Republik, namun tidak diakui oleh
Spanyol baru pada tahun 1648 Spanyol mengakui Republik Belanda
.
2.6
Bidang-bidang
Kehidupan di Eropa Masa Kerajaan Nasional
2.6.1 Bidang
Politik dan Pemerintahan
Di
Spanyol, terjadi perkawinan politik antara Ferdinand II dan Isabelle. Hal ini
dimaksudkan untuk menyatukan wilayah Spanyol menjadi satu. Kebijakan yang
diterapkan adalah salah satunya pengadilan inkuisisi. Pengadilan inkuisisi ini
sebagian dimaksud agar terjamin keseragaman agama, dan sebagian dimaksud untuk
menggencet mereka yang beroposisi terhadap Raja.
Di Inggris, didirikan Great Council
atau majelis agung yang merupaka majlis para Barons. Majelis ini membicarakan
permasalahan kerajaan, politik, keuangan, peperangan.Kebijaksanaan pada masa
pemerintahan Edward dalam bidang politik adalah pemantapan parlemen,
pembaharuan Hukum, salah satunya adalah hukum pertanahan. Mengatur adanya pajak
pada Gereja dan tidak terpengaruh dengan Roma walaupun dia adalah seorang yang
taat beragama, selain itu pada masa pemerintahan Edward diterapkan Bea masuk
sebagai sarana pembangunan keadaan ekonomi Inggris pada waktu itu.
2.6.2
Bidang Ilmu Pengetahuan
Di Inggris, walaupun sempat terjadi
kekacauan pada saat adanya peperangan seratus tahun, dalam bidang-bidang lain
seperti Ekonomi dan pendidikan Inggris mengalami kemajuan.
Kehidupan golongan menengah
yang meningkat dan hal itu berpengaruh
pula terhadap kemajuan negara secara umum. Dalam bidang pendidikan adalah
banyak didirikanya sekolah-sekolah, para pengusaha dan bangsawan turut berperan
dalam memberikan sumbangan bagi kemajuan pendidikan di inggris. Nama-nama
sekolah yang didiriakn pada saat itu adalah public Schools ( orang awam),
king’s college ( Henry VI), queen’s schools, Grammars Schools, universitas
Cambridge. Bayaknya sekolah yang didirikan tersebut semakin menumbuhkan minat
masyarakat untuk sadar pendidikan mulai dari kalangan bawah sampai atas. Sejak
saat itu masyarakat lebih tertarik mempelajari ilmu pengetahuan.
2.6.3
Bidang Ekonomi
Dalam bidang ekonomi dapat dilihat dari meningkatnya
produksi dan eksport Wol yang mendorong para pedagang mencari eksport baru.
Secara ptomatishal itu mendorong kemaajuan pelayaran dan perniagaan. Kehidupan
golongan menengah meningkat dan hal itu berpengaruh pula terhadap kemajuan
negara secara umum .
Negara-negara nasional Eropa menjalankan
politik merkantilisme yaitu paham yang melaksanakan kegitan perdagangan yang
diatur sepenuhnya oleh negara untuk memperoleh neraca perdagangan yang aktif.
Keuntungan perdagangan diwujudkan dalam bentuk logam mulia(emas) sebanyak
mungkin sebagai ukuran kekayaan, kesejahteraan dan kekuasaan negara (Raja).Bagi
Negara-negara yang menjalankan merkantilisme perencanaan perekonomiannya diatur
sebagai berikut :
1.
Berusaha
memiliki logam mulia sebanyak-banyaknya.
2.
Mengalahkan
perdagangan luar negeri untuk melengkapi perdagangan dalam negeri.
3.
Meengalahkan
kegiatan industri yang mengubah bahan baku menjadi bahan jadi untuk diekspor.
4.
Menggalakan
pertambahan penduduk sebab banyak tenaga kerja yang banyak diperlukan untuk
industry.
5.
Negara
mengawasi perkembangan perekonomian dan ikut campur bila dianggap perlu.
2.6.4
Bidang Sosial Budaya
Feodalisme bukanlah
hasil perancanaan, melainkan feodalisme yakni tumbuh dari keadaan setempat.
Inggris diperintah oleh seorang raja dan penyatuan seluruh Inggris terlaksana
dibawah raja Edgar (959-975). Kata feodalisme sesungguhnya berdasarkan kata
feudum atau tanah titipan. Dan memang sebagian besar negara waktu itu diatur
menurut azas feodalisme. Pun dalam tata mayarakat, prinsip yang mennjadi lazim
ialah bahwa setiap orang memiliki seorang tuan (lord)´yang wajib ia layani dan
dari siapa ia memperoleh perlindungan, peradilan, dan jaminan penghidupan.
Hubungan pribadi antara bawahan dan atasan merupakan tali pengikat yang
mempersatukan seluruh masyarakat, bahkan seluruh negara. Pengetahuan dan kesennian berkembang berkat pengaruh Gereja, terutama
kesusasteraan, musik dan arsitektur.
Walaupun bangsa ini baru melepaskan diri dari bangsa lain
namun sifat individualisme yang diwariskan dari renesains semakin membuat
orang-orang eropa memiliki suatu pandangan untuk dapat menjadikan bangsanya
dapat bersaing dengan bangsa lainnya yang ada dikawasan Eropa.
BAB 3. PENUTUP
3.1 Simpulan
Reformasi protestan
di cetuskan oleh Marthin Luther (1483-1546), seorang biarawan Jerman yang
dikenal dan teolog yang brilian. Luther memulai suatu pemberontakan melawan
otoritas gereja yang kurang dalam satu dasawarsa mencerai beraikan tanpa
terpulihkan kesatuan religius dunia Kristen. Selama akhir abad keempatbelas,
dunia Kristen menyaksikan serangan – serangan sistematik pertama yang pernah
dilancarkan terhadap gereja.Kebobrokan gereja seperti penjualan surat
pengampunan dosa, nepotisme ( praktik pengangkatan kerabat untuk menjadi pejabat), pemilikan tanah oleh
keuskupan, dan pemuasan hawa nafsu. Dari Kebobrokan gereja seperti itu banyak
tokoh yang mengecam aksi gereja tersebut untuk
melakukan reformasi.
Kerajaan Nasional dipengaruhi
adanya reformasi Protestan juga dipengaruhi dengan adanya zaman pencerahan.
Dimana ciri-ciri yang dapat terlihat dari zaman pencerahan ialah telah
memberikan sifat dan jiwanya kepada
pemikiran modern.Kerajaan Nasional pada mulanya didasarkan pada adanya
kebebasan dalam persamaan bahasa atau kebudayaan, baru kemudian atas kesadaran
nasional.
DAFTAR
PUSTAKA
Sundoro,
Mohammad Hadi.2007, Dari Renaisans sampai
imperialism
modern.Sejarah peradaban barat abad modern. Jember: Jember
University Press
http://elingeuyizz.blogspot.com/2010/10/reformasi-gereja-1483-1546.html